JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Karakteristik Karya Sastra 2000-an

kelompok :

1. Kurniatri Septianingsih - 121111004

2. Jega Arufa - 121111005

3. Dimas Nur Apriyanto - 121111009

4. Muhammad Ridho - 121111036

 

Beruntungnya sebuah karya sastra, meski semakin ramainya berbagai pusat-pusat industri yang begitu menggiurkan, sastra masih dikenal oleh sebagian masyarakat. Namun, tentu juga membawa suatu perubahan yang terlihat jelas pada perkembangan Sastra saat ini yang begitu mempengaruhi sastra itu sendiri. Yaitu menyangkut beberapa karakteristik yang berubah mengikuti masanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, karakteristik Sastra Indonesia periode 2000-an mencakup :

  1.  Mengangkat tema keseharian.

Pada periode 2000-an, memang cukup banyak karya-karya sastra yang mengangkat tema-tema tentang fenomena atau keadaan di sekitar masyarakat. Kondisi fenomena kemasyarakatan memang memberikan pengaruh yang nyata bagi pembuatan karya-karya satra pada masa itu. Tidak heran jika karya-karya sastra yang muncul dianggap juga sebagai cerminan kehidupan.

  1. Tema yang berlatar belakang feminisme, vulgar dan penghapusan konsep tabu.

Perjuangan perempuan atau gerakan emansipasi wanita yang dilakukan pada masa itu ternyata juga cukup menarik untuk dijadikan dasar dalam pembuatan karya sastra pada era 2000-an. Oleh karena itu tidak heran jika pada masa 2000-an ini banyak dijumpai karya-karya sastra yang berlatar feminisme. Selain itu, cerita yang begitu vulgar dimasukkan ke dalam bagian-bagian cerita dari sebuah karya sastra. Seakan menunjukkan bahwa konsep tabu dihilangkan dari karya sastra. Hal yang dulu dianggap tabu tapi di tahun 2000-an menjadi sesuatu yang bukan tabu lagi. Contoh Ayu Utami yang bergenre feminis. Sebenarnya genre feminis pada periode 20-an sudah diangkat, namun tidak menunjukkan bagian-bagian yang dianggap tabu oleh masyarakat. berbanding terbalik dengan karya Ayu Utami yang sama-sama menganngkat genre feminis, namun menceritakan sisi-sisi kehidupan yang tabu dengan begitu jelas bahkan cenderung vulgar. Salah satu contohnya, terdapat dalam novel yang berjudul Saman karya Ayu Utami.

  1. Menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Filsafat eksistensi mulai tercium di tahun 2000an, memposisikan kebebasan dalam berekspresi. Mempersilahkan pembaca untuk memberikan pemaknaan terhadap karya sastra itu sendiri.

  1. Akulturasi western dan tradisisonal.

Bercampurnya gaya penulisan eropa (western) dengan punya ‘kita’ yang cenderung melibatkan kebudayaan adat, maupun tradisi. contoh : novel Madre karya Dewi Lestari dan Nayla karya Djenar Maesa Ayu.

  1. Mengungkap hal yang dianggap termarginalkan.

Mengangkat tentang fenomena yang terasingkan dan terpinggirkan oleh masyarakat, namun diangakat dalam sebuah novel. Contoh, Atas Nama Malam karya Seno Gumirah Ajidarma yang menceritakan tentang orang-orang malam. Yang dalam masyarakat diasingkan begitu saja.

  1. Mengggunakan bahasa yang relatif. Maksudnya, bahasa yang dapat ditangkap oleh pembaca secara langsung atau menggunakan bahasa sehari-hari.
  2. Muncul kata-kata baru dan romantisme.

Produktivitas diksi lebih kaya. Munculnya konsepsi karya sastra yang chicken soup, karya sastra yang simple, tidak terlalu rumit dalam penceritaan.

  1. Romantisme menjadi salah satu pilihan gaya penceritaan, contoh “Madre”. Selain romantisme, religiusm menjadi salah satu dinataranya dari gaya kepenulisan karya sastra di tahun 2000.
    1. Muncul kesetaraan gender.

Masalah kesetaraan gender ini juga hampir sama maknanya dengan istilah feminisme, dan hal ini juga digunakan sebagai topik dasar yang dapat diacu dalam pembuatan karya-karya sastra pada masa 2000-an.  

  1. Karya Sastra komersil (testimoni) dan film. Saat ini memang, sedang marak dan beredar karya-karya sastra yang mencantumkan beberapa testimoni dari beberapa orang yang dianggap berpengaruh terhadap karya sastra tersebut. Menganggap bahwa testimoni tersebut dapat menunjang keberhasilan suatu karya sastra. Selain itu, akhir-akhir ini pun banyak karya-karya sastra yang di filmkan. Bahkan, beberapa diantaranya memang sengaja dibuat untuk di filmkan. Karya sastra yang menggunakan testimoni dan karya sastra yang di filmkan sebagai pendukung, memiliki dampak bagi perkembangan karya sastra itu sendiri. Berpengaruh pada penilaian bagus dan tidaknya suatu karya sastra pun mulai berubah. Sebagai akibatnya, munculnya konsepsi bahwa karya sastra yang ‘baik’ adalah dia yang memiliki nilai materi yang besar. Untuk mencapai nilai materi yang besar, maka karya sastra tersebut harus diperfilmkan. Untuk pemilihan karya sastra mana yang akan diperfilmkan tentunya harus sesuai dengan permintaan pasar serta harus memiliki nilai jual lebih.

Akibat lain yang ditimbulkan adalah tidak lagi diutamakan karya sastra yang bernilai estetik, menjadi substansinya adalah karya sastra yang mampu dilempar ke pasar untuk memenuhi hasrat praktik kapitalis. Hilangnya konsepsi orientasi dari karya sastra, bilamana di kajian kesusasteraan kita mengenal ada dua fungsi dari karya sastra yakni dulce et utile. Kami rasa fungsi itu lamban laun memudar. “Maka nilai bukanlah produk dari moda produksi spesifik tetapi eksis dalam kemungkinan pertukaran komoditi.” (Richard Schacht, 1970 : X)

  1. Media sastra yang lebih luas.

Sastra saat ini dapat dinikmati dalam berbagai media. Seperti di koran (Jawa Pos, Tempo, Kompas) dan di internet.

  1. Munculnya karya sastra yang lebih beragam dan bervariatif

Misalnya pada sastra Indonesia yang bergenre gothik, seperti karya sastra yang dibuat oleh Intan Paramadhita.

Sastra yang berjenis sciencetific. Contohnya Harry Potter, Da Vinci Code, Angel and Demon.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :