JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Menikmati Harajuku

Menikmati Harajuku

Warna,

Masing-masing memiliki definisi yang terdifinisikan secara sains

Corak manusia

Berbeda,

Ia diciptakan menjadi pembeda

Berdasarkan identitas masing-masing

Atas pembenaran mereka

Dan cap salah orang lain,

Mereka adalah yang bertahan di tengah keabnormalan itu sendiri…..

            Harajuku, adalah istilah asing yang seringkali kita dengar dari berbagai media massa. Memang Harajuku Style adalah pemaknaan dari fashion yang mencitrakan kebebasan individu seseorang dan pemberontakan anak muda terhadap nilai. Banyak stigma negatif dilontarkan oleh masyarakat terhadap cara mereka berpakaian, karena apa yang mereka pakai adalah simbolisasi dari ketidak beresan mental dan sikap mereka. Sedangkan ada pihak-pihak lain yang menganggap bahwa Harajuku ini indah dinikmati sebagai seni, sebagai bisnis dan sebagainya. Sehingga, keberadaan mereka sekarang menjadi salah satu identitas dari negara Jepang.

        Gaya Harajuku merupakan gaya khas Jepang yang terkesan sangat berani dan unik karena tampilannya. Gaya ini mulai merambah ke budaya pop Indonesia, di mana semangat pemberontakan terhadap gaya konvensional masyarakat modern tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Di Jepang, Harajuku style adalah gaya jalanan yang mengadopsi gaya dari barat seperti punk, gothic, glamrock dan terpengaruh gaya Baroque (rambut pirang keriting, kulit dihitamkan dan memakai boots).

            Penerapan Harajuku style dalam bidang fashion ditandai dengan memakai busana yang bebas sembarang warna dan model, rambut  dimodel terserah, pemakaian aksesoris yang berlebihan dan makeup yang diluar kewajaran.

            Sebenarnya, Harajuku adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Sekitar tahun 1980-an, Harajuku merupakan tempat berkembangnya subkultur Takenokozoku (komunitas anak muda penggemar dance group di tahun 70-,80-an di Tokyo). Jadi, Harajuku style adalah gaya jalanan yang diadopsi dari kawasan Harajuku.

            Harajuku muncul di Indonesia sejak booming nya komik (manga) dan animasi (kartun) Jepang. Seperti Candy-candy , Doraemon dan lain-lain. Masuknya ke Indonesia, tidak lepas dari globalisasi arus informasi dan tekhnologi yang menggerus masyarakat perkotaan. Dampak Harajuku akhirnya mempengaruhi pasar fashion baik dari pakaian, rambut, aksesoris dan sebagainya.

            Pada umumnya di Indonesia, masyarakat mengenal style tersebut sebagai gaya yang tidak wajar dan bertentangan dengan nilai-nilai yang telah ada, istilah lainnya adalah nyleneh. Mereka berbusana tanpa standart tertentu, yang paling penting adalah ekspresi kreativitas individu tidak dapat dibatasi karena adanya standar konvensional yang ada. Maksudnya adalah, apabila masyarakat normal mengenal gaya berpakaian dengan konsep umum memakai (kemeja / T-shirt) + (Jeans/sarung/rok/skirt/training) + (Dasi/Syal) + (Jas/jaket dan sejenisnya) + (Sepatu), maka pada komunitas harajuku tidak memakai konsepsi normal tersebut.

            Konsep umum gaya harajuku adalah sebagai berikut:

  1. Menghindari keserasian
  2. Memusatkan perhatian pada aksesori busana misalnya legging , topi, kalung besar, kaos kaki polkadot, syal warna-warni, dasi, tas tangan.
  3. Menekankan gaya mata, misalnya dengan eyeshadow yang berlebihan, lensa kontak berwarna-warni dan sebagainya.
  4. Menata gaya rambut. Misalnya dengan warna yang sangat terang dan warna-warni.
  5. Menggunakan makeup yang mirip boneka.
  6. Menggunakan sepatu dan kaus kaki yang khusus. Misalnya sepatu boots , model platform (Hak tinggi alas datar)

         Komunitas Harajuku di Indonesia sendiri tidak seekstrim yang ada di Jepang. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan dan konsep peniruan terhadap Harajuku Jepang. Di Indonesia, gaya ini dipopulerkan oleh grup Ratu, Pinkan Mambo, Agnes Monica, J-Rocks, dan lain-lain. Peran majalah dalam penyebaran ini juga tak kalah pengaruhya, majalah yang dinilai menjadi pelopornya adalah Animonster. Majalah tersebut menjadi media tersebarnya informasi-informasi terbaru khas Jepang dan pernak-pernik gaya anak muda di sana. Penganut Harajuku Indonesia banyak juga ditemukan di pusat perbelanjaan kota besar dan pada acara tertentu di kota-kota besar.

        Beberapa perbedaan Harajuku antara di Indonesia dan Jepang adalah esensi kemunculannya. Apabila di Jepang gaya ini terlahir karena semangat pemberontakan terhadap pola konvensional dan tatanan yang masih tradisonal, di Indonesia pemakai Harajuku tidak harus melambangkan pemberontakan terhadap suatu hal. Kemudian perbedaan selanjutnya adalah gaya atau detailnya, Harajuku Jepang lebih menonjolkan keberanian warna dan garis, sedangkan di Indonesia dibentuk lebih sederhana. Selain itu perbedaan dalam hal pemilihan warna kostum, apabila di Jepang memakai kombinasi yang banyak warna dan kontras seperti merah, pink, oranye dan sebagainya, di Indonesia lebih menggunakan warna satu variabel dan sedikit kalem seperti biru, hijau. Perbedaan selanjutnya terletak pada gaya rambut, penganut Harajuku Indonesia tidak se“gila” dengan penganut Jepang. Di Indonesia lebih memilih cat rambut atau wig untuk mendandani rambutnya secara sementara dan mendandani rambut seperti aslinya, sehingga berbeda dengan mayoritas yang ada di Jepang, begitu berani bereksperimen dengan rambut mereka, menggunakan warna cerah pada rambut dan sebagainya. Hal ini juga terjadi pada pemakaian makeup pada wajah.

       Beberapa perbedaan tersebut terjadi antara lain karena faktor ekonomi (pendapatan yang berbeda) menjadi pembatas untuk membeli barang-barang yang secara berkala. Selain itu, di Indonesia yang masih menganut dan memegang nilai tradisi dan kesopanan yang sangat kuat menjadi benteng bagi mereka untuk tidak bereksperimen dan berkembang biak terlalu mudah.

         Penganut Harajuku sering menjadi pusat penelitian bagi masyarakat Jepang sendiri, terlebih pengaruhnya telah meluas ke berbagai negara termasuk Indonesia. Pada kaum urban, mereka akan sering ditemui pada acara berbau Jepang. Hanya saja, sebagai masyarakat yang arif, sudah seharusnya kita pintar memilih budaya mana yang cocok bagi keberlangsungan bangsa ini.

 

 


1. Dinda Delima

pada : 06 January 2014

"Like"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :