JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Cita Rasa Urban

 Budaya urban, bagaimanakah rasanya?

     Saya sebagai pendatang dari daerah, otomatis secara langsung merasakan perbedaan kebudayaan. Urban itu identik dengan cita rasa kotanya, rasa individualisme, macet dan kesibukan yang padat. Hal ini terbukti dengan lalu lintas di jalan raya yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor.

Kemudian, hal lain yang menjadi problem seorang pendatang adalah menyesuaikan gaya hidup dengan medan yang ada. Di kota, makanan yang tersedia rata-rata jauh lebih mahal daripada daerah asal saya, sehingga untuk makan harus menyiasatinya dengan makan satu/dua kali sehari pada awal hidup di Surabaya, seterusnya berjalan normal.  Sebagai pendatang yang tidak tinggal bersama orang tua, segala macam bentuk kemandirian untuk “mengamankan dan menyamankan” diri menjadi penting agar diri sendiri tidak merasa homesick kemudian berimbas kepada kegiatan akademiknya.

     Apa yang saya bayangkan pada awalnya terhadap kota ini adalah persediaan buku yang lengkap versi saya. Setidaknya banyak toko buku yang menyediakan beragam buku dan perpustakaan kampus yang lengkap. Ternyata hal ini sama juga dengan yang ada di daerah asal saya. Masih terdapat kesulitan untuk mencari buku-buku yang saya inginkan. Boleh jadi karena memang belum tahu tempat yang pas dan cocok.

     Hal lain yang saya rasakan sangat berbeda adalah arus informasi, setelah di Surabaya, justru hidup di sini agak menulikan dengan informasi terkait politik, permasalahan sosial, dll  yang berasal dari media elektronik ataupun media massa, hal ini terjadi karena saya hampir tidak pernah melihat televisi, ditimpa aktivitas yang begitu padat. Jauh berbeda dengan dahulu, yang meskipun banyak kegiatan masih sempat melihat dan mendengarkan berita di televisi. Efeknya pun terasa ketika saya pulang kampung, meski menganggur saya malas melihat tv. Memilih aktivitas lain yang membuat saya tidak terus duduk dan diam.

     Hal berikutnya yang mengecewakan saya adalah forum kepenulisan. Di daerah, saya mengikuti sebuah komunitas penulis-penulis yang belum sepenuhnya aktif. Harapannya, setelah saya di sini, dapat bergabung dan mengaktifkan diri, karena minat menulis, minat baca dan kuantitas SDM lebih besar di kota daripada di daerah, ternyata yang saya temui, komunitas menulis tersebut malah pasif dan hampir mati.

     Surabaya, kota padat yang dari tahun ke tahun terjadi penambahan penduduk, karena pendatang yang menetap untuk bekerja ataupun belajar. Terutama belajar di perguruan tinggi, karena hal ini tidak ada di daerah. Mengakibatkan berjamurnya tempat kos dari harga ratusan ribu hingga jutaan perbulan. Warung makanan begitu padat, ragam menu pun disajikan, namun seperti sudah menjadi ciri khas bahwa penyetan menjadi makanan wajib untuk dikonsumsi, karena saking banyaknya .

     Selain itu geliat ekonomi, kegiatan yang sifatnya mencari uang ditemukan diseluruh penjuru kota. Pendirian pusat perbelanjaan, berbagai jenis toko, apartemen, kos-kosan, pengemis, pengamen, makanan cepat saji, warung yang berjejer-jejer, supermarket yang kian banyak macam dan namanya menjadi pemandangan yang lazim ditemukan di sini. Karena hal inilah konsumerisme hampir menjadi gaya hidup sebagian kaum urban. Apabila tidak bisa menempatkan diri, dan pasrah mengikuti arus, maka diri sendiri bisa menjadi orang yang hedon (´╗┐´╗┐kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :