JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Dialog dalam Drama

Dialog dalam Drama

Berawal dari pemikiran bahwa sastra adalah usaha untuk memperlihatkan makna kehidupan, bukan sebuah imitasi (peniruan) tetapi sebuah ciptaan dan kreasi, karena itu sastra dapat mengantarkan kita kepada pengenalan diri dan kehidupan secara mendalam sehingga akhirnya kita menemukan norma-norma dan pemikiran yang terjadi dalam masyarakat. Beberapa orang ahli sastra telah membicarakan masalah di atas dalam usaha memberikan batasan-batasan hal-hal mana yang termasuk ke dalam bentuk ciptasastra. Esten (1978:11) membedakan empat bentuk ciptasastra yaitu: puisi, cerita rekaan (fiksi), essei dan kritik, dan drama.

Drama sebagai satu di antara bentuk ciptasastra mempunyai beberapa kesamaan dengan bentuk-bentuk yang lain itu. Namun, pada satu segi tetap ada perbedaan yang nyata. Brahim (1965:55) mengatakan "Sebagai hasil seni sastra, maka drama pun mempunyai sifat-sifat yang bersamaan dengan cabang-cabang kesusastran yang lain; puisi dan prosa". Menurut beliau ada empat unsur yang membangun penciptaan naskah drama dengan bantuan penggunaan dialog. Ada pun unsur-unsur tersebut adalah : unsur budi, (intellectual element), unsur perasaan (emotional element), unsur imajinasi (element of imagination), dan unsur gaya (the technical element or the element of composition and style). Penggunaan dialog dalam drama berfungsi untuk membedakannya dari bentuk ciptasastra lainnya, walaupun ada ciptasastra yang mengandung dialog. Dalam hal ini, drama adalah merupakan dialog yang mengandung cerita, sedangkan untuk cerpen atau novel adalah cerita yang mengandung dialog.

Naskah sebuah Drama memang tidak terlepas dari Sebuah Dialog, Setting, Alur dan Pemain. Dialog dalam  Naskah Drama sendiri yaitu Proses Komunikasi 2 Pemain/Tokoh atau Lebih yang terjadi dalam Panggung. Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.Dialog memiliki peranan yang sentral karena dialog merupakan salah satu unsur esensial yang paling penting. Bahasa-bahasa yang digunakan dalam dialog biasanya menjadi penanda naskah drama tersebut. Dalam Dialog makna harus dipertimbangkan agar memenuhi kaidah semantis dan pragmatis.

Dialog itu terdiri dari dialog dan monolog. Monolog  adalah percakapan seorang diri, ada beberapa macam jenisnya :

a. Berbicara seorang diri: membicarakan hal-hal yang telah lampau, disebut monolog

b. Berbicara seorang diri, tetapi ditujukkan kepada pembaca/penonton, disebut aside

c. Berbicara seorang diri, membicarakan hal-hal yang akan datang disebut solilokui

Beberapa fungsi dari dialog adalah :
- Dialog menampakkan karakter dan memerkaya plot.
- Dialog menciptakan konflik.
- Dialog menghubungkan fakta-fakta.
- Dialog menyamarkan kejadian-kejadian yang akan datang.
- Dialog menghubungkan adegan-adegan dan gambar-gambar sekaligus.
(Suban, 2009: 142)

Lakon juga merupakan karya sastra, yang tidak akan bernilai sempurna bila belum dipentaskan. Membicarakan lakon sebagai salah satu bentuk sastra, berarti meninjaunya dari sudut hubungan antara lakon dengan penulis. Didalam sebuah lakon, terdapat materi. Sedang, penulis akan membutuhkan alat untuk mengolah materi dengan menggunakan dialog dan gerak atau laku.

Materi itu sendiri terdiri dari 3 unsur, yaitu

  1. Presmisse
  2. Watak
  3. Situasi

Ketiga unsur tersebut memiliki relasi dengan dialog, yaitu : Premisse atau tema. Tema adalah keseluruhan cerita dan kejadian serta aspek-aspeknya, sebagaimana diangkat pencipta dari sejumlah kejadian yang ada, untuk dijadikan dasar lakon nya. Hubungan antara tema drama dengan dialog adalah dialog berfungsi untuk memunculkan dan mempermudah menganalisis suatu tema saat drama dipentaskan. Karena setiap detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita.

 

 

Menurut Lajos Egri, Tokoh menjalin plot nya sendiri. Seorang tokoh dalam drama tidak pernah terlepas dari unsur perwatakan. Lajos Egri yang lebih mengutamakan perwatakan, menganggap perwatakanlah yang menjadi inti lakon. Sedangkan, watak dapat terlihat dalam sebuah dialog atau percakapan.

Lakon merupakan rangkaian situasi, sebagai basis perbuatan. Kesenian penulis justru terletak dalam kemampuannya merangkai dan menyusun situasi-situasi yang diangkatnya dari kehidupan nyata, ke dalam lakonnya. Situasi kehidupan ditafsirkan dan disempurnakan untuk mengekspresikan makna khas yang diberikan dan dihayati si penulis.

Watak dan situasi dalam penyusunan antar hubungannya, dijalin sesuai dengan premisse (tema) yang terlebih dahulu telah dituliskan penulis. Dengan pedoman premisse (tema), materi yang telah ada kemudian disusun dan dijalin.

Bagi seorang sastrawan, lakon merupakan salah satu bentuk sastra disamping bentuk-bentuk lainnya seperti novel, roman, ceritapendek, puisi dan lain sebagainya. Selain memiliki elemen-elemen yang sama dengan novel dan roman pada umumnya, … lakon dibedakan dengan bentuk-bentuk lainnya terutama dalam hal pemenuhan tuntutan kebutuhannya.

Jika novel atau  roman adalah untuk dibaca, puisi untuk dideklamasikan, maka prinsip konstruksi lakon dan kaidah-kaidah teknik drama ditimbulkan dan dilandaskan pada kebutuhan penyajiannya kembali oleh pelaku yang memerankan tokoh-tokohnya dan mendukung cerita serta melaksanakan dialog.

Lakon sebagai salah satu bentuk sastra, disoroti keseluruhannya sebagai suatu karya sastra dengan bentuknya yang khas, yaitu percakapan atau dialog. Keistimewaan ini yang membedakan lakon dengan ciptaan lainnya, bukan hanya sekedar ciri formil belaka. Laporan seminar pun dapat disusun dalam bentuk dialog. Yang membedakan dialog lakon dari bentuk-bentuk formil yang sama lainnya adalah : materi dialog lakon.

Dalam hal-hal yang tidak mendukung suatu nilai sastra, dalam karangan-karangan  yang tidak mendukung suatu nilai sastra, percakapan yang menjadi wajah formil tidaklah mengungkapkan suatu kepribadian. Sedang dalam cipta sastra, dialog ditandai oleh pembedaan ciri formil ini, hingga mengungkapkan suatu kepribadian. Disinilah pula letak beda essensiil antara novel ataupun roman dengan lakon : Dalam novel watak ter-revelasikan melalui deskripsi pengarang, sedang dalam lakon watak terangkat melalui percakapan.

Dialog dalam novel sering digunakan untuk mengisi dan melakukan analisa atau memberikan sesuatu komentar secara langsung oleh tokoh-tokohnya. Dalam lakon, dialog merupakan alat bagi penulis untuk mengintegrasikan latar belakang yang diperlukan untuk memahami tokoh-tokohnya.

Republik Bagong merupakan drama dari teater koma. Naskahnya telah diterbitkan. Ceritanya mengenai penyimpangan didalam pemerintahan. Keadaan Negara yang saat ini terjadi digambarkan dalam drama atau lakon “Republik Bagong” ini. Menunjukan sikap orang-orang didalam pemerintahan yang “cuek”, lebih tidak peduli terhadap rakyat dan keadaan sekitar istana yang sedang genting. Tidak hanya itu, namun juga lebih memetingkan kesenangan pribadi dan lari dari tanggung jawab.

            Dilihat dari segi dialog, maka akan terlihat watak, perilaku yang ada dalam sandiwara “Republik Bagong”. Dalam tokoh pewayangan yang asli, Bagong yang merupakan anak angkat dari Semar, adik Gareng dan Petruk. Merupakan satu anggota dari punakawan, digambarkan berwatak banyak bercanda leluconnya kadang menyakitkan karena jujur. Tokoh inilah yang digunakan untuk mengkritik pemerintahan yang tengah dalam kondisi amburadul oleh para dalang. Pembawaan masing – masing dialog tentu berbeda pada tiap-tiap tokoh.

            Bahwasanya dengan dialog, di sini kita dapat mengerti alur cerita. Karena bahasa yang dipakai mudah untuk dipahami. Penyampaian watak tokoh melalui dialog menjadi sarana yang bisa dianalisa. Tokoh lain yang mendukung, seperti Semar, Gareng, Petruk, Ni Pesek (istri Bagong) dan lawannya adalah pemerintahan (seakan begitu) dengan komposisi Begawan Kalapati, Gatotkaca dan Pandhawa. Perilaku lebih jelas, ditambah dengan kramagung.

 

 

 

 

 

 

 

DIALOG

 

  

 

Nama Kelompok :

  1. Kurniatri Septianingsih           (121111004)
  2. Jega Arufa                               (121111005)
  3. Kamila                                     (121111022)
  4. Choirul
  5. Gusti Okky

 

 

Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Airlangga

2011-2012


1. hitam

pada : 29 October 2013

"BAGUS
"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :