JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Cerpen Amatir

Dari Edensor

Jika hidup ini diibaratkan rel kereta api, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu bisa kita ibaratkan seperti cahaya yang melintasi gerbong di atas rel itu. Banyak orang yang banyak pengalamannya namun belum juga belajar, namun ada juga pengalaman yang mencerahkan hidup.  

Terkadang, orang bisa melalui rajam cobaan karena yakin pada akhir cobaan akan ada penyelesaian yang baik. Kini, dalam penglihatanku aku tidak punya apa-apa dalam hal materi, sepeda tua milikku seakan menjadi barang terpenting. Satu-satunya yang membuatku terus meneruskan sekolah.

“Ngiik…Ngiiik…Ngiik” Suara sepeda tua ku kayuh perlahan, semakin merong-rong jalanan pagi yang masih berkabut.  Rasanya tak pantas kalau barang yang sedang kukayuh sekarang bisa disebut sepeda. Ini hanyalah pipa-pipa besi yang bisa menyambung karena dilas. Dalam hatiku terbersit untuk memiliki sepeda yang layak pakai. Namun, aku tetap bersyukur meski keadaan keluargaku kekurangan dalam segala hal.

Jalanan masih saja berkabut, rumahku yang termasuk daerah dataran tinggi memudahkan ku saat berangkat. Aku tidak perlu capek-capek mengayuh sepeda tua ini karena jalan menuju sekolahku menurun. Udara yang sejuk mengalir dari sela-sela pohon menuju pori-pori tubuhku. Jarak yang harus aku terjang masih sangat panjang, berkelok seperti usus. Lima belas kilometer, membuatku menghela nafas dalam-dalam saat aku menghitung jarak dari rumahku ke sekolah. Toh, aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku ingin menjamah tantangan ini, mengalahkan cobaan hidup ini.

Sebenarnya, hari ini adalah Hari Minggu. Yeah, hari libur seperti ini tak menjadikan alasan untukku untuk tetap tinggal di rumah karena ada kegiatan di sekolah. Meski jalanan menurun, aku tetap mengayuh sepeda tuaku karena adzan subuh sudah berkumandang, sang waktu sepertinya tak pernah mentolerir padaku. Aku takut kalau aku terlambat sampai di sekolah, banyak orang menantiku di sana. Sekelompok atlet yang siap mengoarkan nama sekolah kami lewat lomba lari marathon “Protar” memintaku untuk meliput lomba. Bergabungnya aku menjadi anggota ekstrakulrikuler  jurnalistik di SMAN 2 Talun membuatku mempunyai kesibukan tersendiri dihari-hari sekolah.

Rasa takut dengan keadaan sekitarku yang masih gelap membuatku mengayuh sepeda semakin cepat. Sehingga aku tidak sadar kalau ada cekungan di jalan yang aku lewati ini, aku tak sempat mengerem dan BRAAAKK…. Aku jatuh tersungkur di tepi aspal. Tubuh ini seakan mati separo. Aku melihat seorang bapak berlari menuju ke arahku, dia meninggalkan rombong eteknya di seberang jalan.

“Mbaak, mbak tidak apa-apa?” Tanya Bapak penjual etek, kalimatnya kalem terdengar samar ditelingaku. Kuanggukkan kepalaku perlahan untuk menunjukkan respon kalau aku masih sadar. Bapak tadi membantuku untuk bangun namun perlahan, untung  tidak ada yang parah, hanya lecet di tangan dan kakiku.

“Trimakasih…Pak!”  Jawab ku pelan. Ku hela nafas perlahan dan aku ingin bangkit mencari sepedahku yang tak jauh dari posisiku saat terjatuh.

Astaghfirullah hal adzim….” Aku terduduk lemas seketika itu. Kulihat sepeda tua ku patah menjadi dua bagian.  Aku bingung, panik sampai keringat dinginku keluar semua. Entah apa yang aku pikirkan. Mataku menatap sepedaku, tangan dan kaki ini gemetar menahan pilu.

“MasyaAllah… Mbak!” Bapak yang menolongku tadi berseru keras.

Hanya satu yang ku punyai, sepeda ini. Kenapa Allah merusaknya? Apa salahku? Aku sudah tidak memiliki ayah. Ayah yang mestinya menjadi seorang yang aku banggakan, malah pergi entah ke mana. Aku tak pernah tahu wajah ayah seperti apa. Hanya bayangan kosong saat aku memimpikan sosok seorang ayah seperti apa. Sedangkan ibuku menderita keterbelakangan mental. Inikah hidup? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus ke sekolah tanpa sepeda ku. Kenapa Allah mengujiku seperti ini?

Tetes air mata ku jatuh bak air hujan yang tak mampu terbendung lagi oleh awan cumulus. Hidup ku sekarang patah, aku tidak punya asa lagi untuk melanjutkan sekolahku. Aku harus sadar, aku bukanlah orang yang berada. Neneklah yang menghidupiku, bagaimana bisa aku menyusahkan nenek ku lagi untuk mereparasi sepedaku yang sudah patah dan remuk. 

“Mbaak, nama Mbak  siapa? Saya antar pulang, alamatnya mana Mbak? Tanya Bapak.

“Nur Maidah Pak, maaf merepotkan. Bengkel sepeda dekat sini mana ya Pak?” Tanyaku.

Kemudian Bapak penjual etek membawa sepedaku ke bengkel dan mengantarkanku ke sekolah. Saat itu aku masi bersyukur. Allah mengirim orang yang baik untuk menolongku.

“Alhamdulilah” Aku  sudah berada di sekolah, ku ucapkan terimakasih pada bapak tadi yang rela tidak berjualan etek pagi itu untuk menolongku. Namun  jam yang ada di pos satpam menunjukkan pukul enam. Aku takut kalau aku tertinggal , karena mereka mungkin berangkat setengah enam. Aku mulai was-was kalau aku tertinggal. Kuputuskan untuk menunggku sampai jam enam. Karena tak satu batang hidungpun yang muncul, aku naik kendaraan umum menuju candi Penataran, lokasi finish perlombaan. Uang yang kupunya hanya tiga ribu rupiah, hanya cukup untuk pulang dan pergi. Entah, apapun yang terjadi, aku harus sampai di sana.

Perjuangan sangat panjang, ketika aku bisa sampai di tempat yang aku tuju, aku bersyukur bisa menepati janji. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini, perjuangan hidup ini masih panjang.

Karena mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia. Hidup ini memang penuh warna seperti pelangi, kadang pahit, getir. Namun setelah berhasil melewati ini semua merupakan pencapaian yang luar biasa bagi ku. Aku  ingin melanjutkan sekolah sampai kuliah mungkin memang kami tidak punya biaya. Tetapi aku akan berusaha keras agar aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah tahun depan. Mas Andrea lah yang selalu memotivasi hidup ku, masih selalu kuingat kata-kata yang selalu menjadi spirt ku dalam Edensornya, aku ingin mendaki puncak tantangan dan menerjang batu granit kesulitan, Aku ingin hidup! Ingin merasakan saripati hidup.

JEGA ARUFA-121111005-Kelompok Padjajaran

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :