JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

PENGARUH PSIKOLOGI TERHADAP WANITA DENGAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA JAWA YANG MEMUDAKAN ATAU MENUAKAN

PENGARUH PSIKOLOGI TERHADAP WANITA DENGAN KATA SAPAAN DALAM BAHASA JAWA YANG MEMUDAKAN ATAU MENUAKAN 


  1. Latar Belakang

            Wanita memiliki pemikiran yang lebih kompleks dari pada laki-laki. Sehingga, dalam memakai bahasapun wanita cenderung lebih selektif dalam mengungkapkan apa yang ingin ia ujarkan. Menurut Abdul Chaer, ketajaman otak wanita bukan hanya pada indranya, tetapi juga pada perasaannya. Hal ini terbukti ketika diminta mengenang pengalaman masa lalu emosionalnya dengan bantuan MRI, tampak wanita lebih responsive daripada pria. Hal ini terdeteksi pada perbedaan bagian menyala yang lebih luas pada daerah neuron yang mengaktifkan perasaan melankolis itu. Ini juga menjadi bukti mengapa wanita lebih banyak menderita depresi daripada pria. Kemudian, Weiss, ahli psikologi behaviorisme Amerika. Beliau mengakui adanya aspek mental dalam bahasa (Chaer,2003).

            Sehingga, tiap-tiap manusia yang berbahasa ataupun pendengar bahasa akan merasakan efek yang bisa menjadi tidak sama dengan tujuan si penutur. Terdapat kaidah bahasa pemanggilan orang yang terdapat dalam masyarakat Jawa berdasarkan spesifikasi umur. Contohnya, kalau perempuan dipanggil Mbak (Kak), Buk (Bu), mbah (Nek), dan dek (Adik) kemudian menyebut nama. Hal inilah yang menarik untuk diteliti.

            Bahasa bukan lagi semata-mata untuk penunjuk benda saja. Tetapi secara tersirat mengungkapkan banyak hal yang tidak tersirat dalam kata atau kalimat pendek yang terujar. Dapat mengisyaratkan modal-modal yang dimiliki oleh si penutur bahasa. Seperti modal simbolik dan modal sosial. Sehingga Nampak bahwa bahasa yang digunakan mencerminkan bagaimana pemakainya. Dapat diartikan bahwa interaksi yang dilakukan oleh manusia yang menggunakan bahasa sebagai alat utama, ada pengaruhnya terhadap psikologi seseorang.

            Pada dasarnya hal ini dapat dikaji menggunakan subdisiplin psikolinguistik eksperimen yang mempelajari kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penyelidikan dan penelitian mengenai efek psikologi yang diterima oleh seorang wanita ketika dia dipanggil dengan sebutan “mbak” ataupun sebutan lain yang akan membuat dia terkesan lebih tua ataupun lebih muda dari umurnya. Karena penggunaan panggilan dalam bahasa Jawa sangat variatif untuk diteliti.

  1. Rumusan Masalah

             Hal yang ingin diteliti lebih lanjut adalah, apa yang menjadi penyebab penyebutan lebih muda atau lebih tua memiliki dampak psikologis pada wanita yang menggunakan bahasa Jawa. Bahasa adalah cerminan penuturnya dan menimbulkan efek pada pendengarnya. Fokus yang ingin dikaji lebih mendalam adalah penyebutan mbak,dek,buk dan sebagainya yang oleh karena hal apa, kesan yang diciptakan dengan panggilan tersebut menjadi bermakna bagi orang yang mengucapkannya untuk berdialog dan bagi orang yang mendengarnya.

            Setelah mengetahui penyebabnya, selanjutnya juga meneliti bagaimanakah efek psikologis terhadap orang yang dipanggil dengan sebutan yang menimbulkan kesan memudakan atau menuakan.

 

  1. Metode Penelitian

            Penelitian yang dilaksanakan selama dua minggu sampai 20 April 2012 di daerah kampus dan Gubeng Airlangga dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan sample acak. Wanita yang diwawancarai memiliki rentan usia 19 s.d. 50 tahun.

  1. Hasil dan Pembahasan
  1. a.      Penyebab

            Hal yang memunculkan efek psikologis dapat dilihat dari segi pemakaian bahasa yang diujarkan oleh penutur bahasa. Sudah lazim apabila seseorang ingin berbicara dengan sopan kepada orang lain sebagai eksistensinya.

            Kesopanan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Dalam pengertian ini, kesopanan dapat disempurnakan dalam situasi kejauhan dan kedekatan social. Dengan menunjukkan kesadaran untuk wajah orang lain ketika orang lain itu tampak jauh secara social sering dideskripsikan kaitannya dengan keakraban, persahabatan atau kesetiakawanan (Yule, 2006).

            Ada apakah dengan kesopanan? Ternyata hasil wawancara dari wanita yang berumur kisaran 20 tahun menunjukkan bahwa mereka menggunakan penyebutan nama seperti mbak untuk memanggil orang agar terlihat menghormati dengan berperilaku sopan terhadap orang yang diajak berbicara. Ngajeni (menghormati) , bahasa Jawanya. Begitu pula oleh orang yang lebih tua memanggil dek kepada yang lebih muda. Tidak semua wanita di Jawa menggunakan sapaan ini. Hanya saja, hal ini menimbulkan kesan tersendiri bagi penutur ataupun yang diajak untuk mengobrol.

            Kemudian, untuk usia wanita yang hampir kepala tiga, tetapi belum menjadi ibu-ibu. Mereka lebih menyukai panggilan mbak karena panggilan buk terkesan membuat mereka tua. Sedangkan, untuk wanita yang sudah bisa dibilang tua berkisar antara 45 s.d 50, ada yang tidak mau disebut mbah dalam sapaannya. Dia tetap ingin dipanggil buk. Dengan alasan merasa tersinggung.

Kita telah mengetahui penyebab seseorang untuk pemanggilan dengan sapaan yang variatif. Akan tetapi kesopanan yang dapat dibilang merupakan sistem hubungan antar manusia yang diciptakan mempermudah hubungan, dengan meminimalkan potensi konflik dan perlawanan yang melekat dalam segala kegiatan manusia. Apabila sapaan diujarkan pada orang yang tidak tepat, padahal alasannya sama untuk kesopanan, maka penutur bisa dibilang menggunakan bahasa yang kurang memuaskan bagi orang lain, dalam hal ini terutama seorang wanita. Yang berperan menjadi pendengar penutur.

Beberapa tipe tindak kebahasaan lebih sering dilakukan dalam budaya dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi interaksi linguistik memerlukan interaksi sosial juga. Agar apa yang kita katakana tersebut bermakna, maka kita harus memperhatikan berbagai macam faktor yang berkaitan dengan kesenjangan dan kedekatan sosial. Sebagian dari faktor-faktor ini terbentuk khusus melalui suatu interaksi selain karena factor luar juga. Faktor-faktor ini khususnya melibatkan status relatif partisipan, berdasarkan pada nilai-nilai sosial yang mengikatnya, misalnya usia dan kekuasaan. Contohnya penutur yang merasa dirinya berstatus lebih rendah dalam konteks berbicara bahasa cenderung untuk menandainya(Yule, 1996).

  1. b.      Efek Psikologis

            Penerimaan tuturan dari seseorang dapat disikapi berbeda oleh objek tuturan tersebut atau si pendengar. Hal ini, yang menjadi objek khusus untuk pengkajian masalah lebih lanjut adalah wanita yang menggunakan sapaan Jawa untuk menyebut orang lain. Bahasa penting adanya untuk menjalin komunikasi. Selain itu, menurut ahli menyebutkan bahwa bahasa adalah kebudayaan. Selain itu kebudayaan suatu bangsa tidak mungkin dikaji tanpa mengkaji bahasa bangsa itu. (Kuntjaraningrat, 1974, Masinambouw, 1985).

            Anggota masyarakat yang memiliki kebudayaan sama sekalipun pasti memiliki pemikiran atau pandangan hidup yang berbeda. Inilah yang menyebabkan penerimaan terhadap ujaran seseorang terkadang disikapi berbeda apabila tidak berada pada  tempatnya.

            Terdapat kasus yang dapat dijadikan penelaahan lebih mendalam, seperti ketika seorang yang masih berumur 20 tahunan tetapi sudah dipanggil dengan sapaan buk maka ada wanita yang merasa tidak nyaman lagi berkomunikasi dengan si penutur yang mengajaknya bicara. Meskipun begitu wanita dengan kisaran umur ini lebih suka dipanggil dengan sebutan mbak. Ada catatan tersendiri ketika mereka dipanggil mbak oleh orang yang seangkatan mereka, ada yang cenderung untuk memiliki perasaan penolakan terhadap panggilan itu. Hal ini, membuat komunikasi yang terjalin tidak nyaman.

             Bagian selanjutnya adalah ketika mereka disebut dengan sapaan dek kemudian diikuti nama oleh orang yang mereka anggap lebih tua. Mereka cenderung merasa lebih nyaman untuk berkomunikasi karena merasa lebih dekat ketimbang langsung disebut nama mereka. Sebagian responden merasa seperti itu. Tetapi kembali lagi kepada individu masing-masing.

            Perlu dicermati, ternyata sapaan yang biasanya menjadi pembuka percakapan memiliki efek psikologis terhadap kenyamanan interaksi antar penutur. Jika penutur menggunakan sapaan yang salah tempat, contoh kasus yang telah disebutkan di atas. Yaitu apabila seorang yang sudah kelihatan keriputnya, mohon maaf. Biasanya penutur memanggil dengan sebutan mbah agar sopan dan menghargai mereka. Akan tetapi penerimaan yang dilakukan oleh yang diajak bicara justru sebaliknya, merasa tidak nyaman karena merasa lebih tua. Cukup dengan dipanggil Buk. Menjadi catatan juga bahwa interaksi yang terjadi ini berlaku untuk orang yang tidak memiliki hubungan keluarga ataupun darah.

            Dalam usaha untuk mengungkapkan diri mereka, orang-orang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan itu (Yule, 2006).

            Jarak yang tercipta antar penutur budaya yang berbeda perlu dikaji untuk mengetahui, melihat bagaimanakah cara penutur menyusun makna berdasarkan budaya yang berbeda. Apabila kita mengasumsikan dialog terhadap wanita bisa dikaji seperti mengoles selai, maka itu tidak akan bisa. Kita harus mengupas satu persatu lapisan yang ada kalau ingin mengetahuinya.

            Ada tempat-tempat khusus yang konsisten dengan panggilan dengan tujuan untuk memberikan kesan formal tetapi nyaman dengan panggilan Bu. Salah satunya adalah bank konvensional, di mana teller nya memanggil Bu meski kepada wanita dengan usia 20 an.

            Akan tetapi misalnya orang yang lebih muda tidak memanggil dengan sapaan misalnya Mbak, tetapi langsung menyebutkan nama maka hal ini yang dianggap “melangkahi” ataupun bisa dibilang tidak sopan. Dalam tataran kebahasaan pun, untuk sapaan ada tingkatannya sendiri. Sehingga ketika seorang penutur tidak mampu menempatkan posisi bahasanya secara benar maka akan dianggap menyalahi. Tingkah laku penutur menjadi sumber efek yang diterima oleh objek komunikasi. Pada dasarnya untuk berkomunikasi membutuhkan kerjasama antar penutur. Jika seorang pendengar menangkap dengan arti berbeda, harus dipertimbangkan juga aspeknya.  

            Berdasarkan hal diatas maka dapat dibuktikan bahwa pemanggilan dengan sapaan yang memudakan ataupun menuakan akan menimbulkan efek dalam aspek-aspek kejiwaan yang dibangun untuk membangun interaksi dengan komunikasi. Karena sapaan tersebut mau tidak mau sudah menjadi bagian dalam proses berkomunikasi antar penutur. Akan Nampak sekali nantinya jika kita sudah berinteraksi dengan masyarakat.

  1. Kesimpulan dan Saran
  1. a.      Kesimpulan

Dari hasil penelitian tentang pengaruh sapaan atau panggilan terhadap psikologi wanita. Berpengaruh terhadap aspek psikologis dan komunikasi. Ditunjukkan dengan adanya reaksi yang berbeda antara satu sapaan dengan sapaan lain. Kita dapat mengatakan bahwa mereka menyukai seseorang menyapa dengan panggilan yang membuat mereka terlihat seperti umurnya ataupun memudakan mereka.

  1. b.      Saran

Setelah dilakukan penelitian tentang pengaruh sapaan atau panggilan terhadap psikologi wanita maka disarankan sebagai seorang penutur dan pendengar kita mampu menempatkan posisi kita sesuai kondisi. Apabila lawan bicara kita seorang wanita, terutama, maka perlu menjadi catatan bahwa mereka lebih menyukai panggilan yang memudakan mereka. Ataupun sapaan yang tidak membuat mereka merasa lebih dituakan dari lawan bicara.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta : Rineka Cipta.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :