JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Peristiwa Sejarah dan Karya Sastra

Peristiwa Sejarah dan Karya Sastra

  • Karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai beberapa peranan diantaranya sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of comunication), dan cara penciptaan (mode of creation).
  • Obyek karya sastra adalah realitas, apapun juga yang dimaksud dengan realitas oleh pengarang.
  • Karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, dapat berupa puisi atau prosa.
  • Historiografi tradisional sebagai karya sastra sekaligus tulisan sejarah tidak dipertimbangkan di sini. Historiografi tradisional (babad, hikayat,lontara) mempunyai nilai sejarah yang berbeda-beda karena tercampur unsur mite dalam sejarah dan mengandung banyak anakronisme sehingga antara Dichtung dan Whrheitnya perlu dipilahkan.
  • Pertanggungjawaban sejarah dan sastra berbeda. Sejarah mempunyai tugas kembar. Pertama, sejarah bermaksud menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Kedua, sejarah harus mengikuti prosedur tertentu. Tidak begitu halnya karya sastra,yang  tidak tunduk kepada metode-metode tertentu.
  • Penggunaan bahasa dalam tulisan sejarah dan karya sastra berbeda. Sejarah lebih cenderung menggunakan referential symbolism dengan menunjuk secara lugas kepada obyek,pikiran,kejadian dan hubungan-hubungan, sedangkan sastra lebih banyak pesan-pesan subyektif pengarang.

 

Peristiwa Sejarah sebagai Bahan Baku dan Metode Perakitannya

  • Dalam peristilahan Ilmu Sejarah, peristiwa sejarah sering dicakup dalam istilah fakta sejarah. Pertama ialah “a thing done, an action, deed, event”. Termasuk perbuatan tunggal seperti pembacaan naskah Proklamasi. Kedua, fakta sejarah dapat berupa “a particular truth”, misalnya menurunnya kemakmuran Indonesia pada akhir abad ke-19 yang merupakan generalisasi dari sejumlah fakta-fakta khusus yang menunjukkan gejala umum.
  • Peristiwa sejarah akan hilang begitu saja apabila tidak diungkapkan oleh sejarawan. Dalam tulisan sejarah, bahan baku peristiwa sejarah itu telah diproses melalui prosedur tertentu. Sejarawan mencari system of interactions yaitu hubungan antara fakta-fakta secara memadu.
  •  Peristiwa sejarah dapat menjadi pangkal tolak bagi sebuah karya sastra, menjadi bahan baku, tetapi tidak perlu dipertanggungjawabkan lebih dulu. Prosedur kritik, interpretasi dan sintesa, tidak diperlukan oleh sastrawan.
  • Dalam penggunaan imaginasi yang a priori itu sastra dan sejarah, sama. Keduanya sama-sama berusaha membuat gambaran yang utuh dan koheren, yang dapat dipahami, yang sanggup menerangkan dan membenarkan diri sendiri, sebagai hasil dari aktivitas yang otonom. Perbedaanya ialah sastra mempunyai obyek persepsi hal-hal yang ada sekarang, sedangkan sejarah obyeknya ada dimasa lampau. Keterbatasan sejarah terletak dalam obyeknya, tidak dalam peranan imaginasi.
  • Obyek sejarah ialah aktualisasi di masa lalu yang menutupi diri di balik waktu. Sebaliknya, dalam karya sastra obyek itu terletak dalam jangkauan waktu, tanpa pembatasan intelektual dan material.

 

Novel Sejarah dan Novel Sosial

  • Novel sejarah yang secara sengaja menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahan, mempunyai ikatan kepada historical truth, sekalipun kebenaran sejarah bersifat relatif.
  • Di Indonesia novel sejarah dikenal sebagai pendukung gerakan nasionalisme melawan kolonialisme. Novel-novel Abdoel Moeis, Surapati dan Robert Anak Surapati. Karya-karya itu sebenarnya lebih sebagai karya epik daripada novel sejarah, karena tokoh sejarahnya juga menjadi tokoh utama dalam novel itu, sedangkan novel sejarah boasanya menjadikan tokoh sejarah sebagai tokoh minor saja. Novel sejarah yang sungguh-sungguh adalah karya-karya Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang terlarang itu.
  • Sama seperti novel sejarah, novel sosial dapat menggunakan peristiwa sejarah kontemporer sebagai bahan. Peristiwa sejarah kontemporer itu barangkali di jaman pengarangnya hanya dianggap sebagai peristiwa sosial, tetapi bagi generasi sesudahnya dapat diangkat sebagai peristiwa sejarah. Dalam hubungan ini novel sosial dan peristiwa sejarah dapat mempunyai hubungan timbal balik : karya sastra menjadi saksi yang diilhami oleh jamannya, dan sebaliknya karya sastra itu dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa sejarah jamannya dengan membentuk sebuah public opinion. Contohnya novel Multatuli, Max Havelaar (1860).
  • Kita masih miskin dengan novel sejarah yang menjadikan masa lampau untuk menanggapi problematik masa kini.  

 

Penokohan dan Perwatakan dalam Sastra Indonesia

  • Tokoh-tokoh dalam sastra tidak mempunyai perwatakan yang merdeka, tetapi merupakan tokoh yang sudah ditertibkan. Jika hal ini benar, tradisi pewayangan masih kuat berakar dalam sastra modern kita. Dalam sastra tipologis para pelaku sudah mempunyai personalitas yang mapan, terbentuk sejak ia muncul. 
  • Dalam masyarakat yang menekankan pentingnya pikiran kolektif seperti masyarakat Indonesia, kita mendapatkan adanya etika otoritarian. Pikiran kolektif lebih penting daripada pikiran individual dan kesadaran kolektif lebih diutamakan ketimbang kesadaran perorangan.
  • Dengan agak hati-hati kita ingin menarik kesamaan antara sistem pengetahuan masyarakat patrimonial di masa lampau dengan sistem pengetahuan masyarakat kini. Kedudukan  pengarang dalam masyarakat modern berbeda dengan kedudukan pujangga dalam masyarakat patrimonial. Pengarang modern tidak masuk birokrasi, sekalipun ia menjadi bagian dari elite serta tumbuh dalam kerangka sosiokultural yang sama.
  • Dalam karya sastra yang mementingkan ide, penokohan ialah personifikasi dari ide dan bukan kesatuan yang mandiri. Itulah hakekat penciptaan mitologi dalam wayang. Dalang tidak pernah memikirkan psikoanalisa tokoh wayangnya, yang dipikirkan ialah moralitas dari tokohnya, dan tidak dibiarkannya tokoh itu mempunyai psike.
  • Tradisi sastra tipologis melahirkan sebuah sastra total. Maksudnya, sastra yang menjadikan masyarakat sebagai permasalahan.

Sastra Indonesia Mencari Arah

  • Jika akhir-akhir ini dalam sastra Indonesia muncul keinginan akan sebuah sastra yang kontektual, tentulah keinginan itu ddisebabkan oleh kurangnya apresiasi terhadap antiintelektualisme sastra mutakhir.
  • Kita masih menanti lebih banyak pengarang berbicara tentang dunianya, sementara kita harus waspada terhadap pemanfaatan dan penyalahgunaan sastra untuk kepentingan nonliterer.
  • Sastra sebagai simbol dapat melakukan perlawanan terhadap sistem sosial, dengan caranya sendiri.

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005

Tuga    : Pengantar Kajian Kesusastraan

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :