JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Fenomenologi-Hermeneutika

Berbicara Moderat dengan Dialektika Fenomenologi dan Hermeneutika

Sedikit mengurai pandangan Karl Marx yang disinggung minggu lalu mengenai kaum borjuis (pemilik modal) atau yang mampu menghasilkan benda-benda ekonomi dan kaum proletar orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-harinya. Terdapat ideologi diantara kaum borjuis dan proletar yaitu kesadaran palsu yang sebenarnya dibentuk oleh kaum borjuis. Intrastruktur yang berupa alat produksi, modal yang dimiliki kaum borjuis ini merupakan kemauan dari pemilik modal yang merupakan cerminan dari suprastruktur yang berupa institusi, contohnya saja koran, televisi dan media massa lain yang dapat diatur tergantung kepentingan dari pemilik modal. Inilah dialektika yang terjadi antara suprastruktur dan intrastruktur.

Menghabiskan fenomenologi artinya mulai memasuki babak baru epistemologi yaitu hermeneutika. Namun, keterkaitan antara fenomenologi terhadap hermeneutika pasti ada. Karena hermeneutika tidak mungkin tiba-tiba muncul tanpa awal. Hermeneutika sendiri berarti penafsiran teks yang berate ide dan naskah yang telah konkrit. Interpretasi teks tradisional masalahnya hanya dimengerti pada konteks yang ditulis diwaktu dan ruang yang berbeda. Pada mitologi Yunani, hal ini dipahami sebagai penyampai bahasa dari Tuhan kepada manusia. Hermeneutika memiliki tiga dimensi yaitu mengungkapkan kata-kata, menjelaskan kemudian menerjemahkan kata-kata tersebut kedalam bahasa yang berbeda.

Paul Ricoeur menyampaikan pemikirannya bahwa hermeneutika adalah sebuah versi dari fenomenologi. Ia adalah seni untuk mengurai simbol ekspresi yang dapat bermakna ganda dan dapat didefinisikan dengan struktur semantik. Akan tetapi fenomenologi memiliki batasan bagi hermeneutika yang pertama adalah kedua hal tersebut sama-sama memiliki prasangka bahwa setiap pertanyaan tentang wujud berada di atas seluruh pertanyaan mengenai makna wujud itu atau fenomenologi adalah pilihan untuk mendukung makna. Selanjutnya fenomenologi diandaikan dengan konsepsi hermeneutika tentang pengambilan jarak (distanciation) dan belonging. Dapat dikatakan untuk menginterpretasi teks ataupun hal lain perlu menundukkan yang asing. Kemudian bahasa merupakan penyimpangan dari pengalaman. Prasangka yang terakhir yaitu terdapat hubungan antara pengalaman yang bersangkutan dengan peristiwa  dan kesejarahan pengalaman manusia.

Friedric E.D Schleimander menekankan pada psikologi pengarang untuk menafsirkan dan memahami teks, salah satunya bisa menganalisa bahasa yang terdapat pada teks. Menurut Wilhelm Dilthey masa lalu pengarang atau sejarah hidupnya pada saat apa menulis karya itu perlu menjadi unsur yang harus diteliti. Bisa saja hal tersebut terjadi pada masa lalu kemudian diobjektivikasi yang bisa muncul lagi dengan masa yang berbeda di masa itu. 

Dialektika muncul dalam pemikiran Ricoeur dalam membaca dan menulis yang disebut sebagai “pengambilan jarak (distanciation) dan apropiasi”. Pengambilan jarak dimaknai peneliti dapat mengambil jarak atau melakukan otonomi semantik, membawa makna yang terdapat pada teks terpisah dari pengarangnya. Kemudia apropiasi merujuk pada tindakan hermeneutik untuk membuat sesuatu yang asing menjadi akrab dan menjadi milik seseorang. Apa yang diapropiasi dalam sebuah teks adalah makna, referensi dan dunia yang membentang dihadapan pembacanya. Pengambilan jarak terhadap teks dapat berguna ketika peneliti ingin memahami suatu permasalahan yang dia buat dan mencipta kritik. Hal ini dimaksudkan agar permasalahan dapat dimunculkan dan diselesaikan secara kritis dari diri sendiri terhadap teks ataupun tradisi yang dikaji. Di mana tradisi yang telah ada sebenarnya telah mempertanyakan kita pada zaman ini sebelum kita mempertanyakan tradisi.

Masih menurut Ricoeur pengambilan jarak pada puisi, fiksi dan wacana lain untuk mentafsir sejatinya dapat memakai pengalaman sehari-hari. Sehingga tujuan awal hermeneutika berupa familiarisasi dari keterasingan yang ada dengan pengetahuan yang dimiliki peneliti lebih sedikit mudah untuk memperoleh tafsiran yang dapat diterima masyarakat. Bukan terdapat pada benar dan salah analisa suatu permasalahan dalam teks, akan tetapi dalam atau tidaknya hal yang dikajilah yang dapat memahamkan masyarakat akademik khususnya dan penikmat teks apapun pada umumnya.

*Tugas Filsafat Ilmu: Resume mata kuliah minggu lalu dan laporan pembacaan dari pemikiran Paul Ricoeur.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :