JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Paradigma dan Perencanaan Penelitian Kebudayaan

Bab I

Paradigma dan Perencanaan Penelitian Kebudayaan

Penelitian kebudayaan, merupakan kegiatan memahami fakta kebudayaan secara rasional empiris melalui prosedur kegiatan tertentu sesuai cara yang ditentukan peneliti. Dalam konteks penelitian istilah “fakta” memiliki pengertin yang berbeda dengan kenyataan. Lebih mengacu ke sesuatu yang terbentuk dari kesadaran seseorang seiring dengan pengalaman dan pemahaman seseorang mengenai sesuatu yang difikirkannya.

Untuk memahami fakta penelitian kebudayaan, peneliti harus melakukan penafsiran yang didasarkan pada pengalaman kemanusiaan. Penggunaan prosedur penelitian secara umum dibedakan menjadi metodologi kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif, fakta yang diteliti harus dapat dikuantifikasikan atau dituliskan dalam bentuk angka sehingga dapat dihitung dan dianalisis secara statistic, orientasi filosofis dari wawasan positivistik. Sedangkan metodologi kualitatif, kebalikannya, yaitu memahami fakta yang ada dibalik kenyataan. Berdasarkan karakteristik kedua metode tersebut, pendekatan/metode  kualitatif cenderung lebih tepat digunakan dalam penelitian kebudayaan.

Dalam metodologi kualitatif terdapat berbagai pandangan dalam menentukan fakta dan verstehen. Pandangan mereka selanjutnya menentukan paradigm dalam merencanakan dan melakukan penelitian. Paradigm merupakan akumulasi konsep, prinsip, serta nilai yang diterima suatu kelompok masyarakan guna memecahkan masalah maupun membuat keputusan. Paradigma juga beragam karena perbedaan karakteristik realitas, bentuk pemahaman dan perspektif yang digunakan dalam memaknai realitas. Keragaman paradigma yang pertama adalah “Paradigma Positivis”  bahwa realitas disikapi sebagai fakta yang bersifat ganda, berhubungan secara asosiatif, serta harus dipahami secara alamiah, kontekstual dan holistik. Kedua, paradigma konstruktivis, realistis disikapi sebagai gejala yang sifatnya tidak tetap dan memiliki hubungan dengan masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Paradigma ke-tiga adalah posmodernis, intinya harus paham dahulu sebelum menjelaskan.  Penghadiran realitas sebagai teks atau penghadiran tatanan teks sebagai refleksi realitas.

Sejalan dengan terdapatnya sejumlah paradigma sebagaimana telah dikemukakan, calon peneliti juga harus memahami kemungkinan orientasi paradigma yang dipilih. Untuk merumuskan masalah penelitian, kita harus menspesifikasikan masalah yang akan diteliti. Penelitian sendiri merupakan kegiatan kompleks, maksudnya digarap secara sistematis, tepat dan jelas. Agar dapat memberikan jawaban atas pertanyaan apa yang akan diteliti, mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, apa ruang lingkup penelitian yang akan digarap, apa konsepsi teoritis yang melandasi dan bagaimana penelitian dilaksanakan. Kita perlu mempelajari spesifikasi masalah, topic penelitian, rumusan masalah, lingkup penelitian, definisi operasional, peran peneliti, data yang dikumpulkan, teknik pengumpulan dan analisis data, deskripsi dan tipologi yang terakhir adalah ekspalanasi. Kegiatan penelitian, idealnya memiliki relevansi dengan manfaat atau nilai praktis tertentu.

Bab II

Metodologi Penelitian Kebudayaan

Secara umum, strategi yang bisa dimanfaatkan dalam penelitian kebudayaan dikembangkan dari dua perspektif yang berbeda. Perspektif pertama , dihubungkan dengan pandangan pospositivis. Maksudnya, metode yang dikembangkan  bertumpu pada anggapan bahwa fakta realitas kebudayaan memiliki substansi tertentu sebagaimana terbentuk dari kesadaran peneliti. Fakta yang digambarkan harus mencerminkan realitas budaya yang dideskripsikan. Wawasanini disebut wawasan realisme analitis. Wawasan kedua berakar dari pandangan fenomenologi, fakta kebudayaan pada dasarnya bersifat ganda dan berkaitan dengan masaa lalu, sekarang dan masa datang.

Istilah analisis dalam penelitian lapangan dikonsepsikan sebagai kegiatan memahami unsur, ciri setiap unsur, konsepsi dan hubungan antarunsur secara sistematis. Interaksionisme Simbolik, menekankan pada teknik observasi, interaksi dan ongoing  sebagai bentuk observasi dan partisipasi secara terus-menerus. Kemudian, penemuan naturalistic menyikapi realitas penelitian sebagai gejala yang bersifat ganda, terekonstruksikan, dan bersifat holistik. Strategi yang terakhir adalah grounded theory yang lazim digunakan dalam ilmu social antara lain diajukan oleh Glaser dan Strauss (1967) menyusun/ mengembangkan teori berdasarkan data secara induktif.

Penelitian yang diorientasikan pada perspektif konstruktivis antara lain etnometodologi yang berakar pada wawasan fenomenologi dan etnografi teks. Secara umum, strategi dalam perspektif konstruktivis berinduk pada wawasan fenomenologi hermeneutic. Kerangkanya ada tiga tahapan umum yaitu epoche, merupakan tahap pembacaan, penelusuran dan refleksi data pengalaman sehingga menggambarkan kemungkinan satuan dan hubungan tertentu. Kedua adalah reduksi , di mana peneliti menandai dan menyaring data yang relevan dengan intensi ataupun tujuan penelitiannya. Terakhir adalah tahap strukturasi secara analitis-sintesis peneliti mengadakan pemaknaan berdasarkan ciri hubungan makna dalam pertaliannya dengan fakta yang diacu sebagaimana terdapat dalam dunia pengalaman peneliti.

Strategi penelitian dalam perspektif posmodernis mengkonstruksi dunia makna dalam setiap tataran bersifat khas. Menghubungkan hakikat penemuan dan ilmu pengetahuan ke dalam bidang epistemologi, ontologi dan aksiologi. Sebuah kegiatan yang memikirkan kemudian menemukan dan menemukan kemudian memikirkan berlangsung dalam dunia kebahasaan. Dalam perspektif ini, disikapi sebagai produk bahasa.

Ditinjau dari perkembangannya, dalam perspektif metodologi penelitian kualitatif terdapat beberapa pendekatan yang bisa digunakan. Empat pendekatan yang diajukan adalah analisis naratif yang bertolak dari anggapan bahwa wacana kebudayaan terkait tiga hal pokok yaitu manusia, ruang, dan waktu. Kemudian analisis isi, analisis struktural semiotik konsepsinya pada penyikapan realitas sebagai suatu struktur yang dibentuk oleh hubungan komponen tertentu secara sistemis, dan analisis wacana kritikal.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :