JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Sebuah Bayangan Peristiwa (FILSAFAT)

 

Disebalik Peristiwa

Fenomenologi – adalah epistemologi menarik yang sekali lagi tak mudah memahaminya dalam waktu singkat. Apalagi langsung mengaplikasikan dan menghubungkan terhadap teori-teori yang ada. Mengawali analisa ini, ada seorang tokoh besar yang oleh penulis memang sengaja diangkat kisahnya dari media massa. Memang mencari fenomena yang paling mudah dan cepat adalah melalui surat kabar ataupun media massa lainnya. Di mana hal yang diangkat kepermukaan merupakan peraduan antara kenyataan, kesadaran dan apa yang ada dibalik itu atau bisa disebut apa yang terkandung dalam sebuah peristiwa menjadikannya tersirat bukan tersurat. Hal inilah yang perlu dipelajari lebih lanjut menggunakan fenomenologi.

Dialog yang terdapat dalam teks mencoba mengungkapkan secara sederhana, pertanyaan dan pernyataan mengenai fenomena dibalik perilaku yang secara sadar telah dilakukan. Seperti hal apa yang membuatnya seperti itu. Dalam hal ini yang dibicarakan yaitu Dahlan Iskan, seorang menteri BUMN yang perilakunya menjadi begitu menyedot publik.

Kemudian dipahami apa yang disebut sebagai prinsip fenomenologi, di mana susunan fikiran atau ilusi itu akan kembali kepada benda. Maksudnya, dari hal fenomena yang telah ada akan dapat kita jawab menggunakan analisa-analisa yang membuat susunan itu dikuantitaskan. Seperti tes kecerdasan yang bisa diukur dengan nominal. Tetapi apabila mengkaji budaya ataupun perilaku manusia, kita harus mengetahui apa yang bisa digunakan mengukur hal tersebut. Pierre Bourdieu mengimplisitkan bahwa terdapat dialektika antara individu dan kaitan individu terhadap struktur sosial yang objektif (struktur dalam struktur sosial) dan subjektif (struktur yang ada dalam individu). Nah, apa yang menjadi hal-hal diluar individu menjadi penting untuk dipelajari begitu pula hal yang ada di dalam individu itu sendiri.

Tiga senjata utama yang harus kita ketahui untuk menjelajah medan fenomenologi, yaitu mengenali fenomena dan yang lebih ditekankan lagi adalah hasil duet antara habitus dan apa yang disebut sebagai modal. Apa-apa yang kita perlu analisa, diacu berdasarkan ketiga hal penting itu yang menjadi kunci kuasa untuk memahami teks.“Ketika Bapak menuliskan dalam kuasa alambawahsadar (tanpa spasi) maka saya menuliskannya dengan kesadaran penuh 100%”.

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005-Sastra Indonesia kelas A

 

(ALHAMDULILLAH, tugas ini dapet pujian dari dosen : Bagus, Jega kalau nulis selalu bagus :) )

Jadi semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas tulisan 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :