JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Bingkai-bingkai Abstrak dalam Nalar Manusia dan Kehadiran Spiritual yang Dimuat dalam Partikel karya Dewi Lestari

Bingkai-bingkai Abstrak dalam Nalar Manusia dan Kehadiran Spiritual yang Dimuat dalam Partikel karya Dewi Lestari

Jega Arufa /121111005

 

I

PENDAHULUAN

  1. A.    Karya sastra dan Kesadaran Jiwa dalam Partikel

Setiap unsur yang muncul dalam sebuah karya melalui proses kreatif, memerlukan penelusuran erat kaitannya dengan dunia dalam kata. Partikel sebagai karya sastra yang ditulis oleh Dewi Lestari yang memiliki nama pena Dee, merupakan “bayi tua” yang telah ditunggu kelahirannya.

Novel ini merupakan episode ke-4 dari serial Supernova. Episode pertama serial ini yaitu Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang diterbitkan pada 2001. Pada tahun 2002 Akar muncul sebagai episode ke-2. Kemudian Petir pada tahun 2004 yang menjadi bestseller nasional. 8 tahun ia berada dalam embrio kreatif Dee, hingga akhirnya terbitlah Partikel pada 2012.

Partikel menciptakan kultus dengan caranya sendiri. Seorang tokoh yang bernama Zarah Amala yang arti namanya adalah partikel cinta, menjadi tokoh utama dalam novel ini.  Ia yang tidak hidup dalam negeri dongeng belajar dan memberikan pengajaran terhadap pembaca pengenai proses pencarian ayah dan spiritual yang membuat dia melalui fase demi fase kehidupan.

Dee mengangkat kisah “segar” pengembaraan spiritual manusia. Hal tersebut adalah suatu hal yang menarik untuk dikritisi melihat aspek-aspek bahasa dan kehidupan dalam novel mewakili semesta kesadaran jiwa. Sehingga fokus penelitian ini bertumpu pada kepribadian, cara bersikap dan segala yang berkaitan terhadap pencarian spiritual yang diawali oleh Firas ayah Zarah.

Pertanyaan besar yang terdapat dalam Partikel mengenai pemikiran Firas yang seorang ilmuan, diberi label kurang waras oleh masyarakat sekitar karena keberiannya memasuki wilayah terlarang, yaitu bukit Jambul. Kemudian melalui mata Zarah, kita bisa melihat hal yang terdapat dalam Partikel. Sampai pada hilangnya Firas dan Zarah mengumpulkan petunjuknya, menemukan fakta ayahnya memiliki pemikiran yang secara alamiah dapat dijelaskan namun sulit untuk dipercaya.

Munculnya kesadaran-kesadaran spiritual dan perjalanan mencarinya  kali ini lah yang menarik untuk  dijadikan pembuktian, bahwa ada suatu hal yang kasat mata, syarat  makna namun tersembunyi dalam rajutan teks tersebut.   

  1. B.     Partikel dan Jalan Panjang Pencarian

Partikel merupakan episode ke-4 dalam serial Supernova terdiri dari tiga bab. Bab pertama merupakan keping ke-40 berjudul Partikel yang mencakup sebagian besar cerita. Dari total halaman dalam cerita sebanyak 475, bab ini memuat 468 halaman, sehingga porsi pada bab ini menjadi sangat besar. Bab selanjutnya yaitu keping ke-41 berjudul Jurnal Terakhir, kemudian keping ke-42 yaitu Kedua Tangan yang bertemu.

Jalan cerita dalam bab pertama novel ini terbilang memiliki tingkat kerumitan rata-rata yang dapat disusun secara kronologis. Meskipun pada bab pertama memerlukan catatan khusus untuk mengingat kejadian pada masa lalu yang diceritakan diawal, kejadian pada masa berikutnya yang dikisahkan di tengah jalan cerita, ataupun munculnya kisah yang diceritakan dengan ada apanya pada posisi yang terpisah-pisah. Untuk menyusun kronologis cerita, dalam dalam novel ini ditandai dengan adanya petunjuk angka seperti sub bab dan angka tahun yang dimunculkan pada beberapa bagian dalam seuruh bab.

Bab pertama yang dibuka pada tahun 2003 di Bolivia tempat Zarah, kemudian pada keping terakhir pada bab ketiga menunjukkan pada tahun 2003 di Bandung, tempat tokoh dari novel serial Supernova sebelumnya saling bertemu, yaitu Bodhi pada Akar dan Elektra dari Petir.

Zarah Amala seorang perempuan yang oleh ayahnya diasuh menggunakan metode khusus, ia merasa bahwa ayah adalah bagian terpenting dalam kehidupannya. Hingga ketika ia kehilangan sosok ayahnya, ia berusaha mencarinya dengan jejak yang ditinggalkan lewat jurnal yang dibuat Firas.

Oleh karena jalan pencarian Zarah untuk mencari ayahnya telah lama ia jalani selama 12 tahun. Pada akhirnya Zarah setelah pencarian panjang tersebut kembali ke Indonesia untuk kembali mencari pada akhir cerita Partikel.

“Zarah, saya dan Paul sempat ngobrol-ngobrol tentang ini, tentang kamu dan pencarianmu…” (hlm 6)

“Ah, come on,Missy.It’s been what- ten years? Eleven?”

“Twelve. But that’s not the point.” (hlm 7)

Kemudian percakapan yang terpisah tersebut disambung lagi dengan keputusan Zarah untuk kembali yang terdapat pada hampir akhir cerita, keping 41.

Paul menguatkan hati, bersiap menyampaikan satu-satunya pertanyaan penting, “Pelarian kamu selesai?”

Tak ada jawaban. Hanya embusan napas berat. Paul sabar menanti.

“Saya tidak lagi berlari. Cuma mencari,” akhirnya Zarah menjawab. “Dulu,keduanya bercampur. Sekarang, tidak lagi.” (hlm 471)

Firas, ayah Zarah memang memiliki posisi yang penting dalam kehidupan Zarah, hal ini mengakibatkan ia memutuskan untuk menjalani pencarian panjang tersebut setelah ayahnya menghilang dari rumah.

Bila setiap anak diajari untuk mencintai kedua orangtuanya sama besar, dengan sangat menyesal aku harus mengakui bahwa cintaku menggunakan peringkat. Ayah adalah dewa. Aku ini anak blasteran dewa. Sejenis Hercules. (Hlm 9)

Pernyataan tersebut merupakan hasil sikap oleh Zarah terhadap ayahnya. Menyelami pemikiran pencarian yang dilakukan oleh tokoh Partikel, dapat ditelusuri menggunakan rekam jejak pemikiran yang ditinggalkan Firas dalam ingatan Zarah, jurnal buatan Firas dan sikap keseharian Zarah.

Secara pembacaan awal, objek pencarian Zarah adalah ayahnya, namun melihat data tekstual, terdapat suatu hal yang lebih dari itu. Kemudian hal inilah yang membungkus Partikel tetap dalam dunianya dan kita harus masuk dan menterjemahkannya melalui hal-hal yang bersifat kepribadian, sikap dan pilihan manusia yang terdapat dalam novel ini.

  1. C.    Psikologi Penokohan dalam metode Psikologi Sastra

Telaah ini menggunakan teori psikologi penokohan dalam psikologi sastra. Dengan demikian fokus penelitiannya terdapat pada aspek kejiwaan yang dimiliki oleh tokoh. Suwardi Endraswara (2008:179) menyebutkan bahwa tokoh adalah figur yang dikenai dan sekaligus mengenai tindakan psikologis. Dia adalah “eksekutor” dalam karya sastra.

Peristiwa kejiwaan dalam Partikel ketika menangis, membenci, kehilangan harapan, kabur, dan lain-lain merupakan wujud perilaku yang dipaparkan dalam teks dan menjadi fakta empiris. Lebih lanjut Suwardi Endraswara (2008:180) menjelaskan bahwa keadaan tersebut merupakan keadaan jiwa yang menanggung gejala jiwa tertentu. Pada tataran tersebut, yang dialami oleh manusia diinternalisasi, dan dihayati sepenuh hati merupakan peta jiwa. Peta jiwa dapat terang dan buram, tergantung suasana yang membangun.

Sehingga melalui pembacaan berulang dan memiliki fokus penelitian pada aspek kejiwaan tokoh dalam menemukan konsep spiritual yang dimunculkan dalam teks, ataukah sebenarnya terdapat hal lain yang tersembunyi. Maka psikologi sastra harus menemukan metafisik yang terdapat dalam data empiris. Hal tersebutlah yang merupakan titik temu antara sastra dan psikologi.

Selanjutnya, perlu kembali ditekankan, bahwa pemahaman psikologi tokoh sebaiknya memang tidak terfokus pada tokoh utama. Tokoh lain, ada kemungkinan menjadi penting dan perlu dikemukakan untuk mengungkap satu kesatuan makna yang utuh dan lengkap.

Dalam partikel, selain Zarah Amala yang memiliki pemikiran menarik. Firas, ayahnya justru menjadi tokoh lain yang mampu menggerakkan alur cerita. Berkaitan dengan hal ini akan dibahas pada bab selanjutnya.


II

SEMESTA DALAM PARTIKEL

Partikel sebagai sebuah novel menampilkan cerita, ingatan dan tema biologi yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Hal ini yang membuat bagian demi bagian Partikel syarat akan pengetahuan tentang asal-muasal alam dan hal semacam itu.

Oleh karena penelusuran pemikiran yang terdapat dalam novel tersebut bersumber dari tokoh yang menghidupkan cerita dalam teks. Maka penggalian kali ini dipusatkan pada tokoh yang menjadi gerbang dalam memasuki semesta Partikel.

Interpretasi terhadap karya sastra kian berkembang, dan dirumuskan teori penciptaanya oleh Freud.

“Bagi Freud, sebuah karya sastra sebenarnya sama seperti sebuah mimpi. Keduanya tidak lain adalah suatu penyempurnaan bayangan terhadap wish fulfillment (hasrat bawah sadar yang terpendam). Oleh sebab itu, kaidah interpretasi mimpi dapat dikenakan pula pada interpretasi karya sastra”. (Endraswara, 2008: 16)

Sehingga lahirnya sebuah karya sastra tidak terlepas dari alam sadar dan bawah sadar seorang pengarang. Proses kreatif yang mendorongnya keluar hingga tercipta karya yang memiliki kondisi psikologis tertentu. Sebuah karya tercipta dari rahim penulis yang sudah fenomenal dan populer di Indonesia pada tahun 2000 an ini hingga sekarang. Tentu delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu keberlanjutan sebuah kisah Supernova. Partikel, karya Dee. Novel ini terdiri dari tiga bab/keping yang diramu dengan konflik psikologis dalam diri tokoh yang begitu kental.

Berdasarkan hal tersebut, analisis terhadap Partikel akan memiliki batasan tertentu dan hal tersebut dapat memfokuskan penelitian ini. Lebih dahulu analisis mengenai Zarah dan Firas sebagai pembawa risalah yang terdapat pada subbab Dua Tokoh. Kemudian dengan pendekatan psikologi sastra pada subbab berikutnya, banyak hal yang didapatkan melalui dialektika antara bahasa dan kejiwaan tokoh. Kemudian dalam subbab Menemukan Bingkai Spiritual yang telah dibuktikan pada penjelasan sebelumnya, analisis yang dilakukan diharapkan mampu memecahkan misteri pencarian spiritual yang membekukan atmosfer Partikel. Dengan begitu, jalan yang bercabang telah memiliki petunjuk arah. Dan perjalanan kali ini ini, akan membawa pada satu arah dengan tempat tujuan yang mungkin tidak terduga.  

  1. A.    Dua Tokoh

Karena penemuan-penemuan dalam cerita yang begitu kompleks maka, novel ini menjadi begitu menarik apabila dibedah menggunakan pendekatan psikologi sastra. Tokoh utama dalam novel ini adalah Zarah, dengan berbagai konflik dan cerita perjalanan yang ada, ia berusaha mencari ayahnya yang menghilang, Firas. Perjalanan panjang Zarah mencari ayahnya menjadi awal cerita dan konflik yang terdapat dalam novel ini.

Firas, ayah Zarah dalam pendekatan psikologi sastra menjadi menarik untuk dikaji karena perilakunya yang diluar kebiasaan orang pada umumnya. Ia dilahirkan di Batu Luhur, kota di pinggir Bogor. Kemudian dibesarkan tidak oleh orang tua kandung, melainkan Abah Hamid. Abah orang yang begitu disegani di kampung tersebut. Ia tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Hingga terkenal menjadi dosen IPB yang genius. Konflik bermula ketika ia menyukai Aisyah (Ibu Zarah), anak kandung Abah. Cinta bersambut, Aisyahpun juga sangat mencintai Firas, sehingga mereka memutuskan menikah dengan pertentangan yang ada. Abah menganggap mereka berdua melakukan “inses”, meskipun mereka bukan saudara kandung.

Setelah pernikahan dilangsungkan hubungan Abah dengan Firas memburuk. Abah menganggap hal tersebut adalah aib dan tidak boleh dilakukan. Namun, cinta telah membuat mereka begitu ingin bersatu. Masyarakat Batu Luhur sangat mendukung dengan pernikahan dua orang yang sangat terkenal waktu itu, Firas karena kecerdasannya, sehingga masyarakat Batu Luhur tidak pernah kekurangan pangan, dan hasil pertanian meningkat karena temuan-temuan Firas. Sedangkan Aisyah adalah bunga desa Batu Luhur.

Pernikahan mereka membuat Abah , Umi menjauh dari Firas dan Aisyah. Hingga kelahiran Zarah pun tak membantu banyak untuk mendekatkan kembali keluarga tersebut. Perlakuan Firas, seorang dosen jenius ini justru nyeleneh, pasalnya dia memilih mendidik anaknya secara mandiri, tidak melalui lembaga pendidikan seperti pada umumnya, Zarah tidak disekolahkan oleh Firas. Hal tersebut makin membuat jurang pertentangan antara Firas beserta keluarga Abah.

Firas ahli mikologi, memiliki pengetahuan yang luas terhadap makhluk hidup di bumi, terutama jamur. Perilakunya semakin menjadi tidak wajar ketika ia memutuskan untuk memasuki daerah terlarang di daerah tersebut, Bukit Jambul. Warga tidak merasa aman dengan perilaku Firas yang seperti itu. Karena Bukit Jambul, Firas sering tidak pulang beberapa hari, bahkan ketika Aisyah sedang mengandung. Aisyah sudah merasa bahwa hamilnya kali ini ada hal yang tidak beres karena seringnya ia sakit. Puncak konfliknya pada bagian ini adalah ketika bayi tersebut, adik Zarah dan Hara lahir dalam kondisi mengerikan. Banyak yang bilang itu akibat perilaku Firas yang sering ke Bukit Jambul, bahkan menghilang pada waktu kelahiran bayi tersebut.

Semua menyalahkan Firas, tetapi Zarah tidak. Ketika Firas kembali, ia menjelaskan bahwa bayinya terkena Harlequin Ichtyosis. Penyakit yang sangat langka, akan tetapi keluarga Abah tidak bisa hal tersebut. Menganggap bahwa Firas sudah beristri jin sehingga anaknya dikutuk seperti itu, dan anggapan-anggapan mistis lain. Keesokannya, Firas menghilang, Zarah dan keluarga semula menganggapnya akan kembali, namun, setelah seminggu tidak ada tanda-tanda keberadaan Firas,akhirnya kepolisian pun turut mencarinya. Setelah berbulan-bulan tidak ada tanda kehadirannya, mereka menyerah.

Firas meninggalkan hasil penelitiannya, jurnal tersebut bukti pemikirannya dan hasil pengalaman kejiwaannya selama ini. Ia menulis mengenai awal lahirnya manusia, makhluk-makhluk yang ia temui ketika menembus dimensi yang lain. Begitu banyak hal yang Zarah temukan dalam jurnal ayahnya. Hasil pemikiran itulah yang Zarah pakai untuk menelusuri jejak sang ayah, Firas.

Sehingga permasalahan psikologi yang dialami Firas menarik untuk dikaji menggunakan pendekatan psikologi penokohan. Meskipun Firas bukanlah tokoh utama dalam Partikel, namun kemunculannya dalam cerita menjadi dominan. Selain itu, keberadaannya yang melatarbelakangi konflik dalam Partikel.

Dimensi keberadaan Firas setelah menghilang secara Fisik membuat Zarah kehilangan dan mencarinya.  Meski cerita Zarah telah bermula sejak awal, namun hal inilah yang membuatnya memulai perjalanan. Secara garis besarnya pemantik pergerakan konflik disini adalah Firas, sehingga ia menjadi seorang yang sangat berpengaruh bagi Zarah yang menjadi tokoh utama.

 Sehingga posisi Firas membayangi Zarah dan mengendalikan kesadarannya meskipun Zarah tidak menyadarinya, seperti kata Zarah

Bola mataku beralih dari kiri-kanan seperti menonton pertandingan pingpong. Sungguh aku tak mengerti kenapa perihal sekolah dan tak sekolah ini begitu dipermasalahkan. Aku bahkan tidak tahu Ayah menyimpan rapor, atau mungkin itu hanya akal-akalannya saja untuk mengelabui Ibu.

Setiap hari aku dan Ayah selalu belajar sesuatu. Sekolah atau bukan namanya, aku tak peduli. Secara berkala Ayah menguji atau menantangku, tapi apakah aku lebih baik atau tidak daripada anak lain, aku juga tak peduli. Duniaku hanya aku dan dia. (hlm 52-53)

Zarah menunjukkan bahwa dia sangat berpihak terhadap Firas. Kemudian, setelah Zarah kehilangan ayahnya, dia menjalani tes dan bersekolah di lembaga pendidikan formal. Zarah mengutarakan pendapatnya tentang asal manusia di bumi

Aku, yang terkantuk-kantuk di pojok sendirian, mendadak melek mendengar kisah itu. Legenda manusia pertama adalah tema besar di jurnal kedua Ayah. Langsung aku mengacungkan tangan.(Hlm 99)

“Kalau yang saya tahu begini, Bu. Kenapa missing link dari kera ke manusia belum ketemu-ketemu sampai hari ini? Karena kita diduga hasil hibrida dengan makhluk ekstraterestrial, Bu . . .  ” (Hlm 99)

“… Pihak yang nggak setuju itu akhirnya menciptakan legenda tentang ular penggoda, dosa pertama, dan seterusnya. Itulah yang bertahan di kitab agama-agama Samawi. Seperti yang Ibu ceritakan tadi.” (Hlm 101)

Zarah dan Firas merupakan dua tokoh utama yang sebenarnya tidak terpisahkan. Dari segi pengaruhnya, Firas menjadi inti dari pergerakan Zarah. Apabila digambarkan dalam sebuah skema maka relasi keduanya adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

Penjelasan dari skema tersebut dimulai dari dimensi Firas. Untuk menyebut hasil pemikiran dan aspek kejiwaan yang berkaitan dengan Firas. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa pengasuhan Zarah pada usia anak-anak hingga kurang lebih usia 13 tahun, Firas yang mengajarinya secara langsung. Sehingga bentuk perilaku Zarah disebabkan oleh pemikiran Firas. Hal tersebutlah yang dijelaskan pada dimensi Zarah. Dalam benaknya tak ada yang perlu dihiraukan karena pemikiran Firaslah yang benar buat Zarah. Pemikiran Firas sudah ada dalam pemikiran Zarah. Sedangkan dogma agama dan kepercayaan masyarakat yang dibelakang dimensi Firas dan dimensi Zarah adalah bayang-bayang bagi keduanya. Mereka tidak mengikutnya, tidak berada di dalamnya, tidak melaksanan sesuai kebiasaan yang berlaku, akan tetapi mereka hidup di dalamnya.

  1. B.     Psikologi Penokohan Berkaitan dengan Pencarian Spiritual

Karya sastra, tampaknya telah mampu merekam gejala kejiwaan yang terungkap lewat perilaku tokoh. Perilaku ini menjadi data atau fakta empiris yang harus dimunculkan oleh analis atau pembaca, ataupun peneliti sastra dengan syarat bahwa mereka memiliki teori-teori psikologi yang memadai di dalam usaha bedah investigasi (Endraswara, 2008 : 184).

Dalam analisis umumnya tokoh utama yang dijadikan bahan penelitian, sedangkan tokoh kedua dan seterusnya menjadi cerminan psikologi bagi tokoh utama. Karena dominasi dari tokoh utama memudahkan untuk diteliti. Tokoh Firas yang digarap dengan karakter yang kuat dan menonjol menjadi tarik khusus setelah adanya tokoh utama seperti yang dijelaskan oleh Endraswara (2008 : 181) yang mengatakan bahwa pemahaman psikologi tokoh sebaiknya tidak hanya terfokus pada tokoh utama. Tokoh lain dibawahnya,siapa tahu jauh lebih penting, perlu dikemukakan sekaligus.

Perjalanan ini bermula karena penelitian Firas. Dia seorang yang cerdas dan mendedikasikan ilmu yang dimiliki untuk masyarakat Batu Luhur.

Kampung juga tidak pernah dilanda krisis pangan. Mereka tak tersentuh kasus kurang gizi karena Ayah mengimbau setiap rumah  menanam pohon kelor yang kaya nutrisi dan tak kenal musim…(Hlm 12)

Kenyataannya, tak ada yang benar-benar paham mengapa Ayah, seorang dosen genius, yang kerap disebut-sebut sebagai “asset paling menjanjika”-nya Institut Pertanian Bogor, sebegitu antinya kepada sistem pendidikan formal.(Hlm 17)

Karena kecerdasan Firas dan kecintaannya pada Biologi, terutama Mikologi. Dia memiliki hasil pemahaman sendiri mengenai kerajaan fungi yang menjadi asal kehidupan. Sebagai dosen dia sudah menjadikan Batu Luhur sebagai laboratorium hidup yang hasilnya kembali dirasakan oleh warga sekitar. Kemudian, masa menyenangkan yang ada telah hilang. Usahanya untuk mengabdikan diri pada masyarakat membuatnya memiliki akses kemanapun dia pergi. Dan Bukit Jambul, tempat yang dipercayai terlarang oleh warga menjadi tujuan berikutnya Firas, obsesi hidupnya.

Meskipun Abah, ayah Firas sangat keras melarang, semakin penasaran pula Firas ingin memasuki wilayah tersebut. Firas menjadi seorang yang jarang pulang karena penelitian yang dia lakukan di Bukit Jambul. Zarah meyakini bahwa fungilah yang telah menyedot perhatian ayahnya sehingga tidak begitu perduli dengan keluarga. Firas mengkonsumsi beberapa jenis Psilocybe.

Sejak aku tahu Ayah mengonsumsi beberapa jenis  Psilocybe, aku pun mulai melihat benang merah atas potongan-potongan kecurigaanku. Beberapa kali aku melihat Ayah meracau sendirian di kebunnya di Batu Luhur. Matanya fokus, tapi kesadarannya seperti ada di tempat lain. Pernah juga aku melihatnya terhuyung di saung dengan napas tersengal, keringat membanjiri keningnya. Kadang ia tergolek, menatap langit-langit saung dengan mulut mengigau entah apa.(Hlm 36)

Keberadaan obsesi Firas, ambisinya untuk melakukan penelitian lebih jauh yang sebenarnya membuat kesadaran jiwanya semakin menjadi. Aisyah, istrinyapun tak berpihak lagi pada Firas. Ia menganggap bahwa ia telah berubah karena kesurupan dan kecintaan ilmunya berganti menjadi syirik, atupun ateis. Ia menyadari betul perbuatannya. Gangguan psikologi yang dia alami adalah halusinasi. Akan tetapi apabila semua yang dialami oleh Firas adalah halusinasi maka hasil pada jurnali yang ditulis oleh Firas menunjukkan hubungan yang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Sehingga kesadaran yang dibangun boleh jadi ketika tidak sadar. Ataupun ketika tidak sadar, sebenarnya dia sedang sangat sadar menjalani penelitiannya di Bukit Jambul. Seperti hasil jurnal yang ditemukan oleh Zarah. Dan Zarah telah memasuki labirin pikiran ayahnya. Bukti jurnal inilah yang menjadi penting bagi perjalanan spiritual Firas. Perjalanan yang membenturkan kepercayaan dan “kepercayaannya”. Perjalanan jiwa yang penuh dengan logika-logika berjalan.

Bukti fisik lima jurnal Firas menjadi rekam jejak pentingnya. Pada jurnal tersebutlah ditemukan fungi, enteogen yang sebenarnya dapat mengubah level kesadaran seseorang. Selain itu, terdapat catatanya mengenai legenda manusia pertama. Dan yang mencengangkan adalah hasil perjalananya yang memasuki portal “dunia lain” dalam jurnal kelima.

Aku bertemu mereka lagi. Kali ini bentuk mereka lebih jelas terrlihat. Tingginya kira-kira satu meter, kulitnya abu-abu, licin tanpa bulu. Proporsi kepala mereka sangat besar dibandingkan tubuhnya. Mata mereka menonjol, besar, iris mata mereka cokelat atau gelap atau hitam, bagian sclera hampir tidak kelihatan, atau mungkin tidak ada. Hidung mereka tidak berbatang, hanya sepasang lubang tipis . . . (Hlm 88)

Kemudian jurnal tersebut juga memuat gambar-gambar yang berada dalam pikiran Firas. Melakukan analisis terhadap kepribadian Firas yang tidak dimunculkan dengan bukti lain dalam teks, tidak kemudian mengarah pada apa yang dia fikirkan sepenuhnya halusinasi. Hal ini disebabkan karena tidak ada bukti lain yang mengarah bahwa Firas berbohong. Selain itu, tidak dapat dikatakan pula bahwa penelitian Firas benar. Karena tidak ada kemunculan pembenaran dari semua yang dilakukan Firas yang ada dalam Partikel.

Firas teralienasi dari masyarakat dan ia hidup dalam dunia yang ia mengerti sendiri kemudian menghilang. Sedangkan Zarah semakin meyakini dengan pemikiran itu.

Zarah pulang sebagai manusia baru, demikian yang mereka katakan kepada Ibu saat menjemputku. Ibu mencium tangan mereka satu-satu sebagai tanda terima kasih.

Setidaknya mereka benar tentang satu hal. Aku pulang dengan sebuah kesadaran baru. Aku adalah Firas berikutya. Inilah pemberontakan pertamaku. (Hlm 106)

Zarah memiliki keputusan sendiri ketika dunia memutuskan memojokkan dirinya, setelah Firas pergi. Dia memutuskan bersepakat, mematuhinya dengan itulah ia berhasil untuk bebas berpikir.

  1. C.    Menelusuri Bingkai Spiritual

Pertanyaan berpasangan dengan jawabannya. Begitupun dengan Partikel yang masih menyimpan teka-teki hingga cerita ini ditutup.  Sejak awal adanya  konflik, tabrakan pertama yang terjadi adalah antara mitos dengan ilmu pengetahuan, kemudian kebiasaan masyarakat dengan hasil penelitian yang dianggap bertentangan.

Namun dibalik itu semua, ada sebuah hal tersembunyi. Lebih dari kemisteriusan Bukit Jambul. Namun Zarah menelusuri bongkahan teka-teki itu dan mulai menemukan titik terang pencarian spiritual ini. Pencarian yang berhubungan dengan aspek kejiwaa ataupun rohani, karena sejatinya, hal-hal yang diungkapkan dalam Partikel mengenai pemikiran Firas dalam jurnalnya bukanlah kebenaran umum, melainkan sebuah keanehan bagi masyarakat pada umumnya.

Setelah perjalanan lamanya ke luar negeri Zarah menemui Simon, orang yang pernah korespondensi surat dengan ayahnya. Di sanalah, ia menemukan jawaban yang meski tak mampu menjawab semua hal, setidaknya dia tahu.

“Saya ingat masa-masa itu,” aku menyambar. “Ayah mengirimkan entah berapa banyak surat ke luar negeri. Dia bilang, dia ingin cari sponsor untuk penelitiannya.”

“Kamu tahu penelitian apa yang dia maksud?”

Aku menggeleng.

Inner space travel,” Jawab Pak Simon

Alisku mencureng. “Apa itu, Pak? Ayah nggak pernah cerita.

“Ayahmu mengerti prinsip polaritas yang berlaku di realitas ini. Seseorang tidak akan mungkin menaklukan angkasa luar kalau ia belum menaklukan alam batinnya. Seberapa jauh umat manusia mengeksplorasi alam batinnya, sebatas itu pulalah kita bisa mengeksplorasi angkasa. Perjalanan manusia selalu dua arah. Ke dalam dan ke luar. Tidak bisa menegasi untuk mencapai satu lainnya.”

“Eksplorasi alam batin? Bukannya itu sudah dilakukan Jung? Freud?” Aku menyela.

“Psikoanalisis Cuma bisa menggaruk permukaan, Zarah. Sementara yang perlu diselami itu ibaratnya lebih dalam dari palung laut. Cara konvensional yang kita punya hanya mengandalkan alam sadar untuk mengerti alam bawah sadar. Mana bisa? Kemampuan alam sadar kita sangat terbatas. Ayahmu mengerti itu. Karena itulah dia putus asa. Dia merasa dunia sains konvensional yang jadi topangannya terlalu kaku, nggak terbuka, dan sangat terbatas.” (Hlm 409-410)

 

Lebih lanjut, Simon menjelaskan mengenai pencarian ayahnya ini sedang berhadapan dengan semesta.

“Proposal riset. Penelitian intensif dan terukur untuk menjelajah planet lain, perjalanan ke ‘luar’ menggunakan jalur ke ‘dalam’. Memakai enteogen. Dalam proposal ayahmu, ia merujuk spesifik pada jamur.”

Psilocybe? Amanita muscaria?” Aku langsung menebak.

“Betul”

“Apa hubungannya jamur dengan planet lain?”

“Logika yang umum adalah, kalau kita mau cari makhluk angkasa luar, kita harus punya pesawat dan teknologi yang cukup, betul? Sementara, secara fisik manusia baru bisa sampai ke Bulan. Kapan mau sampai? Nah, Firas berargumen, penjelajahan yang sama bisa dilakukan tanpa teknologi pesawat. Tubuh manusia mampu melakukannya. Dan, Bumi ini sudah menyediakan enteogen sebagai fasilitasnya. ‘Pesawat’ itu diracik di dalam molekul tubuh manusia. Jadi, bukan perjalanan ke luar. Melainkan ke dalam. Untuk mencapai tujuan yang sama.” (Hlm 411)

 

Dan pada kesempatan selanjutnya, Zarah mencoba tanaman Iboga yang membuatnya bertemu dengan the spirit of Iboga.

Sebenarnya, apabila dihubungkan dengan kondisi psikologi tokoh, maka pembuktian halusinasi atau tidak menjadi penting. Agar dapat diketahui kondisi kejiwaan seseorang. Namun, apabila dilihat dari kesehatan jiwanya, maka hal tersebut merupakan suatu yang tidak normal. Memang ini berkisah seputar hubungan titik antar semesta, tetapi suatu yang tidak dapat dinalar, kembali hubungannya bersifat spiritual. Ataupun jika terbukti salah, Firas adalah seorang yang diluar batas normal. Sedangkan yang dilakukan Zarah ketika mencoba Iboga adalah usaha untuk mencari jawaban yang membuatnya ingin tahu selama ini. Dan karena efek dari Iboga seperti zat adiksi, maka ia dapat berhalusinasi.

Banyak pergolakan batin yang menegasikan kekuatan spirit ini. Karena dikatakan psikoanalisis dan dunia spirit yang tengah dijalani oleh Firas merupakan suatu hal yang berbeda.

            Pencarian spiritual yang dimaksud adalah upaya untuk menjawab pertanyaan tentang semesta yang tersembunyi dalam Partikel unsur terhalus semua benda. Adanya makhluk selain manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, boleh jadi sebenarnya ada di tempat lain di bumi ini atau tempat lain. Dan pencarian Firas merupakan konsekuensi logis yang dia jalani untuk menuntaskan keinginannya untuk tahu terhadap rahasia yang tengah semesta sembunyikan. Karena kemampuan manusia terbatas, maka ia belum dapat menjangkau hal tersebut.

            Hal ini lebih menjurus pada kepentingan manusia yang orang lain merasa hal tersebut diluar kebiasaan normal, namun demi sebuah dimensi yang harus dia jelajahi,maka dia memutuskan untuk melakukan pencarian, betapapun nalar orang biasa sulit menjangkaunya, betapapun orang lain beranggapan bahwa dia telah kurang waras.

 

 

 

 

 

 

 

III

KESIMPULAN

 Novel Partikel mencoba membaca dunia yang lebih dalam dibandingkan analisis psikologi manusia. Apabila dahulu kejiwaan belum bisa diempiriskan, maka sekarang yang terjadi adalah dunia spiritual yang bergesekan dengan makhluk lain yang berada di tempat yang berbeda, mencoba diangkat dalam teks ini dalam bentuk yang begitu meyakinkan.

Pembacaan Partikel boleh jadi langsung diterima saja, dianggap sebagai sebuah rekaan dan proses kreatif. Namun ada yang membuatnya terus bergerak dalam alam pikir manusia. Karena ia mengandung pertanyaan dan jawaban manusia yang tak pernah mereka duga. Pembacaan selanjutnya baru boleh seorang melakukan penerimaan atau penolakan, atau menafsirkannya agar lebih terang benderang.

Tidakkah semua unsur yang terdapat dalam teks ini tidak hanya berbicara seputar enteogen, tetapi mencoba menjawab keresahan manusia dengan teka-teki yang dia(teks) ciptakan sendiri. Kebenaran umum mengenai adanya makhluk ‘luar’ masih diragukan keberadaanya. Namun dengan penjelasan ilmiah, risalah baru yang terdapat dalam Partikel ini telah dengan berani disampaikan.

Banyak hal yang membatasi dunia manusia karena ketidak tahuan seorang manusia. Banyak orang mulai menyombongkan diri ketika mampu berkuasa dengan ilmu pengetahuan yang ada, tetapi, Partikel mencoba mendeskripsikan hal yang tak terdeskripsi dengan gamblang selama ini. Bahwa pencarian seorang manusia adalah mengenai eksistensi dirinya sendiri.

Pada keping ke-41 ditemukan surat dalam jurnal Firas yang ditujukan untuk Zarah. Menjadi awal perjalanan yang lebih panjang bagi seorang anak manusia. Bahwa semesta yang maha luas ini, tidak terbayang dan tidak terukur, semuanya kembali lagi dengan bagaimana seorang anak manusia mampu berperilaku secara mandiri dan manusiawi. Selama ini, mereka yang memepertanyakan tentang kehadiran semestapun mulai tertohok dengan adanya nilai baru yang masuk mengenai arti manusia dari dalam. Menembus dunia luar dari dalam diri manusia. Seperti sebuah ungkapan “Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu”.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :