JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Bagaimana Menyentuh Hati

Sekilas dalam buku Bagaimana Menyentuh Hati karya Abbas As Sisi.

Pendekatan terhadapa objek dakwah memilik cara yang berbeda-beda. Akan tetapi, pada haikatnya semua objek dakwah memiliki hal yang sama, yaitu hati. Kunci yang tepat akan membuka pintu hati seseorang sehingga menerima seruan dakwah.

 Cara memikat hati objek dakwah dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur, pendidikan, tradisi dan pola pikir. Pembentukan pribadi Islami (takwin asy-syakhshiyah al islamiiyah) adalah proses pertama yang harus dilalui oleh seorang kader. Seorang kader dakwah tidak boleh menunda-nunda waktu karena perputaran waktu adalah bagian dari pengobatan dan pembentukan (al waqtu juz’un minal ‘ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat.

Pengorbanan para da’I haruslah melibatkan, harta, tenaga maupun waktu dalam proses ekspansi dakwahnya. Karakter da’I yang cerdas dan bersih mempengaruhi proses dakwah fardhiyah itu sendiri. Fase pertama yaitu (pembentukan) takwiniyah “Yang pertama Memberikan uswah hasanah : menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang islam, bertoleransi pada masalah-masalah khilaf dan furu’, kemantapan iman, pemahaman yang universal”.

Seperti yang sudah difirmankan Allah SWT dalam QS Al maidah 15-16,  Al Qur’an datang sebagai cahaya. Pusat pembangkit “tenaga” bagi kaum muslimin. Apabila Al-Qur’an dicampakkan oleh kaum muslimin sendiri maka hati akan menjadi gelap dan tatanan kehidupan menjadi rusak. Tugas kita sebagai da’I adalah seperti tugas para pegawai listrik, mengalirkan kekuatan ini dari sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar.

Tatkala ingin memikat hati mad’u, Anda harus ingat bahwa Anda adalah seorang da’i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala berdakwah, Anda harus ingat sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka Anda harus mempertimbangkan hadiah apa yang pantas dan bagaimana cara memberikannya.

Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Sepeti brankas yang sangat besar sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil. Permasalahan da’I berada dalam dirinya sendiri, muncul dalam dirinya, menyangkut potensi ruhiah. Disamping kecakapannya dalam membuat program serta ketahanan dalam mewujudkannya. Jika tatapan mata dipenuhi rasa iri dan dengki dapat menimbulkan madharat, maka mata yang dipenuhi rasa iman dan kasih sayang akan menimbulkan rasa cinta dan keimanan.

Da’I ibarat qalbu(hati), maka barangsiapa yang tidak memfungsikan hatinya, ia tidak mendapatkan sambutan dari masyarakatnya. Dalam QS Ali Imran 159 diterangkan, hati yang beriman adalah sumber penggerak (At Taghabun 11). Perasaan dan kasih sayang adalah “bahasa” internasional yang dipergunakan oleh da’i dalam menghadapi penduduk bumi.

Dalam QS Al Qashas : 56 walaupun kita sudah memberikan segenap hati kita untuk mengajak mad’u, tetapi hanya Allah yang berhak membolak-balikkan hati orang tersebut. Terdapat sebuah kaidah yang berbunyi ambillah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jika ada yang mudah.

Proses awal yang dapat dilakukan oleh seorang da’i kepada mad’u nya adalah menghafal nama. Hal ini penting, karena dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Langkah awal dan benang pertama yang mengikat antara hati individu.

-Jega Arufa

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :