JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

TUGAS ETIKA DAN ESTETIKA : Renungan Pagar, Ruang Etika dan Estetika antara Duri dan Hati

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005

TUGAS : ESAI (UAS ETIKA DAN ESTETIKA)

 

Renungan Pagar, Ruang Etika dan Estetika antara Duri dan Hati

Sebuah kredo

Ruang adalah mesin kewaktuan yang menganga diatas jelaga-jelaga berbatu pualam. Bersamaan dengan konsepsi yang tidak hanya udara berbatas tembok atau waktu. Ia berpijak pada batin, berjajar membentuk barisan pembatas pun sekat. Ialah bahtera antara aku dan engkau.

            Bila kita melihat arsitektur kota, terutama rumah-rumah yang berjajar di pinggir jalan Surabaya maupun kota besar lain, sering kita temukan konstruksi bangunan yang memiliki tiga elemen penting dan hampir setiap rumah terdapat hal tersebut. Tiga bagian sebuah hunian dalam masyarakat kota yang terdiri dari tanah (lahan), bangunan (rumah) dan sebuah pagar. Pagar menjadi unsur penting dalam proses konstruksi rumah. Padahal, pagar memiliki dualisme fungsi antara mengamankan dan mengasingkan pemilik rumah dari kehidupan sosial. Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan adalah kehidupan yang tercipta di dalam dan diluar pagar itu seperti apa? Apakah memang lebih baik segala kondisi yang ada dalam sebuah hunian dibatasi oleh besi yang saling berjejar? Bagaimana dengan kehidupan perkotaan dahulu? Masih adakah puing-puing gotong royong dalam masyarakat kota yang tertinggal?

            Urbanisasi yang terjadi tiap tahun membuat pertambahan penduduk di kota kian naik. Ironisnya tidak dibarengi dengan pertambahan luas wilayah dalam kota tersebut. Sehingga bangunan yang semakin meninggi dan mengecil terlihat pula di penjuru kota. Pengamanan yang diberikan semakin berlapis, misalnya ada pagar yang menjadi bagian konstruksi bangunan, alarm anti maling, satpam, anjing penjaga dan seterusnya. Kehidupan dengan dunia sosial seakan menjadi mimpi, karena mereka memiliki dunia sosial sendiri-sendiri atau terkotak-kotak, kehidupan tanpa tetangga.

        “Ketika terjadi pergeseran tradisi tepatnya dari kosmologi pandangan dunia agraris, pertanian yang teratur, tertata harmonis menuju ke urban yang bergerak, yang tidak pasti, yang nomade, yang selalu dislocated maka terjadi pula dislokasi nilai. Kita disini melihat bahwa telah terjadi pergeseran juga mengenai anggapan mana yang sebelumnya dipandang sebagai baik dalam tata harmoni kosmologi atau pandangan dunia petani, baik di sana yang dihayati berharga adalah sesuatu yang dihayati teratur, yang tidak menyimpang dari musim hujan, musim kering, dari siklus yang terjadi terus-menerus. Sementara itu, dalam pandangan dunia atau pandangan jagat urban, semuanya bergeser, semuanya berkeping-keping. Jadi, di sini cirinya adalah justru ketidakpastian itu. Dalam situasi dikejar-kejar waktu, di Jakarta atau di kota-kota lain, sebagian besar waktu ditentukan bukan oleh dirinya, tetapi oleh pekerjaan pabrik, oleh jam kerja (Sutrisno, 2006 :145)”.

Ruang-ruang dalam masyarakat kota mengalami dislokasi nilai termasuk rumah pribadi mereka, sehingga apabila menjumpai rumah-rumah di kota besar, tidak akan luput dari adanya sebuah pagar di rumah tersebut. Pagar adalah simbol kedigdayaan sebuah rumah, tidak hanya sebagai pengaman, tetapi juga mengeksklusifkan pribadi, menjauhkan dari kehidupan bertetangga yang arif dan penuh kegotong-royongan, Guyub rukun. Selain itu, pagar sebagai benteng pertahanan material yang menjadi tanda bahwa kepercayaan masyarakat terhadap orang di luar dirinya sendiri tengah dipertanyakan.

Pembuatan pagar dalam sebuah rumah tidak serta merta menjadi hiasan ataupun pengaman. Hal ini menunjukkan betapa kehidupan kota dipenuhi dengan kriminal-kriminal yang siap melalap dan kalap materi keduniawian.

 “Masyarakat yang (mengaku dirinya) modern, seringkali bertingkah arogan, melecehkan perilaku masyarakat tradisional. Kenyataan tersebut tercermin dari sebutan ndesa, ndesani atau “kampungan” terhadap kelakuan  orang yang dinilai tidak sepatutnya (Budiharjo, 2005: 28).” Nilai kekeluargaan masyarakat tradisonal padahal dapat dinilai lebih tinggi, karena memang kultur masyarakat yang berbeda dengan masyarakt perkotaan. Kehidupan modern bukan berarti kehidupan tanpa pagar. Bukan juga kembali pada zaman dahulu, tapi kehidupan di mana etos kerja masyarakat berangkat dari hati, sehingga sosialisasi dengan pribadi lain diluar komunitasnya menjadi suatu kebutuhan diri yang harus dilakukan. Kehidupan modern tidak hanya ditentukan dari kebaruan sebuah ruang, namun kebaruan sikap juga menentukan, bahwa tiap waktu mestilah diri kita mampu memperbaiki diri.

Pagar-pagar itu, berdiri bagaikan sebuah benteng kerajaan yang susah dijangkau, yang mengkultuskan pemilik rumah. Sehingga, wajar kalau tetangga dekatpun tidak tahu rumah disebelahnya tengah mengalami cobaan hidup atau mengenyam manisnya kehidupan.

Tingginya pagar-pagar rumah menandakan ada yang salah dengan jiwa sosial masyarakat bangsa ini. Padahal dengan adat timur yang begitu melekat, masyarakat bangsa ini adalah orang yang unggah-ungguhnya tinggi dengan semangat kekeluargaan yang bagus.

Pagar, sebuah hegemoni heroik palsu yang mengakar dalam masyarakat dalam era kekinian. Berawal dari stigma kemodernan, barat mencekoki isme-isme termasuk postmodernisme yang ditelan oleh bangsa ini dengan filter yang kurang ketat, sehingga disorientasi nilai masyarakat terjadi. Saling tumpang tindih, harmoni sosial tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Tingginya pagar bukan hanya simbol estetika sebuah hunian, namun menggambarkan sebuah “aspirasi” dari pemilik rumah tersebut. Semakin tinggi, semakin digdaya rumah tersebut berdiri sendiri ditengah rimbunnya manusia berlalu lalang. Komunitas sosial bergeser, dari tetangga yang disebut rukun tetangga, rukun warga, menjadi kelompok-kelompok yang tergabung diluar “pagar”, misalnya komunitas shopaholic, pebisnis, dan semacamnya.

Pagar meruntuhkan nilai sosial, meninggikan rasa kemandirian penuh. Digerus oleh zaman, teknologi bertambah semakin canggih, bertemunya hati pun tidak harus secara fisik. Ibarat kata, yang dekat secara geografisnya jauh secara hati. Facebook, twitter, dan media sosial yang lainnya, aplikasi BBM, Line dan seterusnya menyibukkan masyarakan dengan obrolan maya.

Angka kriminalitas yang tinggi tidak dipungkiri menjadi faktor pendorong manusia untuk melakukan pertahanan dirinya dan keluarga. Bahkan di kota-kota besar, motor yang berada didepan pagar pun bisa raib, sehingga ketakutan terhadap kehilangan-kehilangan yang terjadi menjadi faktor pengadaan struktur tersebut. Padahal apabila berpikir lebih mendalam, keadaan bertetangga yang rukun akan menjadi pagar terbaik bagi pengamanan diri kita dan keluarga. Tetangga akan ikut menjaga maupun mengawasi apa yang dikhawatirkan tersebut.  

Jarang ditemukan obrolan-obrolan dengan nuansa keakraban dalam masyarakat (kecuali nemu di warung-warung, atau perkampungan :red). Cerita kesenggangan sosial adalah topik harian yang tidak ada habisnya untuk diulas. Karena, realita tersebut ada setiap kita membuka mata.

-          Angka criminal semakin tinggi

-          Tinggi pagar

-          Individualistik

-          Kehidupan social perkotaan

-          Rumah2 kota

-          Nilai ruang yang dipaksakan dalam konsepsi kebudayaan Indonesia.

“Semua dulu yang aman-aman di kampung dengan tata kosmisnya yang aman, ketika modernisasi muncul

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :