JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Sastra Jepang Terjemahan : Haruki Murakami

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005

Novel  : Dengarlah Nyanyian Angin karya Haruki Murakami

Dengarlah Nyanyian Angin sebagai

Simbol Pemberontakan Nilai Kemapanan

            Novel dengan judul asli Kaze no Uta o Kike yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Dengarlah Nyanyian Angin ditulis oleh Haruki Murakami, seorang kandidat penerima nobel kesusastraan. Cerita dalam novel ini mengisahkan seorang tokoh utama Aku yang tanpa nama dalam delapan belas hari berlibur pada suatu daerah di Jepang, daerah Yamanote. Sebuah tempat dekat laut yang memiliki suhu sangat panas, sehingga ketika liburan musim panas, tak ayal rasanyapun seperti matahari mendekat pada bumi.

            Banyak hal menarik yang diutarakan oleh pengarang, misalnya pemilihan tokoh utama yaitu Aku yang diceritakan tidak bernama dari awal sampai akhir cerita. Dia menceritakan kehidupannya yang sebenarnya tidak jauh dari kondisi pemuda. Dia suka minum-minuman keras, seperti kawan dekatnya yaitu Nezumi. Sehingga pembaca menebak-nebak dan berhasil terseret dalam alur cerita tersebut. Aku tanpa nama memiliki karekter unik dank has yang begitu kuat sehingga bagi pembaca tidak akan salah mengenalinya dalam cerita tersebut. Ia suka menulis, namun juga sangat berantakan pikirannya. Ia suka membaca, tapi hanya karya orang yang sudah meninggal yang ia anggap bagus dan memiliki kekuatan cerita.

            Tokoh Aku dalam cerita beberapa kali menjalin kisah cinta dengan perempuan yang berbeda. Kisahnya dengan seorang perempuan dengan empat jari memiliki porsi tersendiri dan paling mengesankan dalam novel ini. “Aku” bertemu dengan perempuan itu yang tak sadarkan diri karena mabuk, ia membawa Gadis itu bermalam. Ia salah paham terhadap tokoh Aku, mengiranya telah melakukan “sesuatu” dengannya ketika ia tak sadarkan diri, tetapi bukan seperti itu faktanya. Namun, Aku bertemu kembali dengannya ketika membeli piringan hitam disebuah toko yang ia tuju karena pada waktu yang telah lalu ia ingin mengembalikan piringan hitam pada seorang wanita yang menghubunginya lewat acara radio.

            Awalnya hubungan yang terbentuk dengan dingin menjadi hangat dan sangat berkesan bagi Aku. Sayangnya kisah itu berjalan sangat cepat, kemudian mereka berpisah. Akhir cerita ketika Aku kembali ke kota untuk kuliah, karena masa libur musim panasnya telah habis, ia memiliki cerita sendiri, menikah dengan seorang perempuan dan tidak tahu lagi bagaimana kabar perempuan berjari empat tersebut. Kabar gadis manis berjari empat itu tak pernah ia dengar lagi, setelah keputusan si gadis untuk meninggalkan daerah itu.

            Hal-hal yang menjadi masalah dalam cerita ini berlatar kehidupan yang diangkat dari kisah yang terselip dari seorang mahasiswa yang ketika itu memiliki posisi tersendiri, apalagi menjadi dokter hewan. Ia justru senang dengan hal-hal berupa fiksi yang bertolak dengan kehidupannya yang serba ilmiah. Kemudian itulah sisi kehidupannya yang membuat ia hidup, sisi lain dari seorang mahasiswa dari universitas terkemuka pada masanya.

            Secara psikologis tokoh Aku, dari keluarga berada dan masih lengkap, dia dapat dianggap berperilaku menyimpang karena melampiaskan keinginannya dengan perilaku yang negatif dalam masyarakat yang normatif. Masyarakat Jepang memang berbeda, mereka dibolehkan mengkonsumsi minuman yang memabukkan ketika mencapai usia tertentu, yaitu dua puluh tahun. Ada upacaranya sendiri untuk mengesahkan hal tersebut. Akan tetapi kebiasaan tokoh Aku untuk selalu menenggak minuman beralkohol agaknya melampaui kebiasaan orang normal dan tidak wajar.

            Kisah lain dalam cerita ini , Aku berkawan dengan Nezumi anak dari seorang kaya raya. Namun Nezumi memilih tidak hidup dengan gelimangan harta tersebut, ia bersikap antikemapanan. Begitu mudah mengeluarkan uang, namun tidak memanfaatkannya dengan baik, misalnya untuk uang pendidikan ataupun modal usaha seperti kebanyakan orang. Ia memilih hidup yang nyaman dengan minum-minum setiap hari.

            “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” Pernyataan ini ditulis dalam novel ini, sedikit banyak mampu menggambarkan realita dalam teks di mana seorang anak muda yang semestinya hidup dalam lingkaran perjuangannya meraih mimpi, namun ia hidup dalam konflik yang ia ciptakan sendiri.

Kehidupan tokoh menjadi datar tanpa masalah yang begitu mengada-ada inilah yang menarik. Kalimat tidak akan sempurna tanpa tanda titik, dan ia yakini bahwa tidak ada kalimat yang sempurna yang dibuat oleh manusia. Begitupun keputusasaan yang seakan dialami oleh seorang tokoh. Meskipun suatu ketika begitu berat melangkah bahkan merasa tidak ada harapan karena saking  putus asa, sebenarnya itu bukanlah keputusasaan yang sempurna. Artinya, selalu ada celah yang membuatnya tidak sempurna, ada pori harapan yang mampu masuk dalam keputus-asaan sehingga membuatnya tidak sempurna.

Beberapa rencana manusia tidak akan sepenuhnya berjalan dengan mulus. Seperti penulis yang menentukan nasib tokoh dalam kisah ini. Meski pembaca tak menangkap akhir yang bahagia dari hubungan antara gadis berjari empat dan tokoh Aku. Akan tetapi Aku memilih jalan hidupnya sendiri, tetap menyelesaikan kuliahnya dan muncul kembali dalam cerita sebagai seorang yang sudah memiliki istri.

Akhir teks dalam novel ini terdapat pernyataan yang tokoh Aku kutip dari Heartfield “Dibandingkan dengan alam semesta yang jelimet, dunia kita ini hanya seperti otak cacing” itulah pesan terakhir yang secara tekstual disampaikan dalam kisah tersebut. Banyak hal yang memiliki masalah atau bagian yang lebih kompleks daripada dirinya sendiri dibandingkan dengan tatanan sosial yang ada dan masyarakat dunia yang lebih luas.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :