JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Saatnya Bungkam Candu Baru Rakyat

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005

Tugas Bahasa Indonesia Jurnalistik kelas A

Saatnya Bungkam Candu Baru Rakyat

Masih segar dalam ingatan mengenai kasus seorang siswa SD yang membuka resletingnya di kelas karena menirukan goyangan pada sebuah tayangan lawak disebuah stasiun televisi. Maraknya tayangan yang membuat penonton tertawa karena terhibur agaknya lebih diminati. Akan tetapi, hal tersebut berbuntut panjang pada pendidikan moral dan karakter masyarakat Indonesia yang mayoritas memiliki budaya dengar daripada baca. Sehingga, masyarakat sangat cepat tertular nilai-nilai yang disampaikan melalui sebuah acara televisi.

Televisi sudah menjadi santapan sehari-hari masyarakat negeri ini. Sehingga, monopoli penayangan oleh sebuah acara akan berpengaruh terhadap cepatnya penangkapan masyarakat. Kemudian muncul pernyataan yang menentang tayangan-tayangan lawak yang dianggap tidak mengandung unsur pendidikan. Mulai dari pernyataan ketidak setujuan, hingga petisi penghentian acarapun ramai diajukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia.

 Permasalahan terdapat pada acara yang ditayangkan, membuang waktu produktif seorang anak yang mestinya dapat belajar, berinteraksi dengan keluarga ataupun istirahat.  Tentu berbeda hasilnya dengan tayangan yang dapat memberikan edukasi pada pemirsanya. Hal seperti ini membekukan waktu seseorang selama empat jam dalam sehari hanya untuk melihat tayangan yang tidak membangun kepribadian karakter.

Kekuatan moral bangsa ini, tercetusnya sejarah yang melegenda di negeri ini tentu dibangun dengan darah,keringat dan air mata. Apakah keberanian pemuda ketika mencentuskan sumpah pemuda berasal dari sebuah dagelan, tentu tidak. Pemuda yang tangguh lahir dari rahim perjuangan dan kondisi yang tidak apatis terhadap kemajuan sebuah negara.

Lawakan dalam sebuah stasiun televisi dianggap tidak memiliki unsur pendidikan oleh pakar pelindung hak anak. Hal ini dikarenakan guyonan yang mengolok-olok orang lain menjadi sebuah kebiasaan rutin yang menggelitik dan membuat orang lain dapat terhibur. Selain itu, penampilan fisik yang dipamerkan oleh pelawak laki-laki yang berperan sebagai perempuan dengan memakai baju seperti mereka muncul menjadi bagian yang tak terpisahkan dari acara seperti itu.

Lebih lanjut jika ditarik dalam kerangka pemikiran Bourdieu mengenai pertarungan arena budaya, maka budaya tersebut mencoba mempertahankan posisinya sebagai budaya yang digandrungi oleh masyarakan, banyak peminat dan yang menirukannya.

Terdapat pertarungan kebudayaan yang tidak dapat dihindarkan. Modal untuk memenangkan arena tersebut, misalnya pelawak adalah artis terkenal, menggunakan pakaian mini dan seterusnya akhirnya mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Selanjutnya, mari melihat dari sudut pandang sebagai masyarakat yang menganggap lawakan menjadi penting dalam dinamika kehidupan. Mbok ya jangan serius-serius dalam menyikapi hidup, kerangka berpikir masyarakat yang sudah sampai seperti itu memang menandakan masyarakat ini tengah dilenakan. Banyak tayangan kreatif yang mampu memberikan nilai pendidikan pada jam tayang utama, agar memberikan manfaat terhadap pembentukan karakter bangsa yang lebih baik.

Berasal dari perang pemikiran yang menandakan arus pergerakan zaman yang semakin modern, televisi sudah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga apabila tidak mampu memilah dan mengontrol pemakaiannya, maka nilai luhur bangsa ini dengan sendirinya tergeser oleh moralitas yang semakin miring.

Lebih miris lagi, masyarakat pada umumnya telah dibiasakan dengan tayangan lawak yang tidak mengedukasi tersebut. Sehingga, anggapan yang muncul ketika terjadi penolakan untuk menghentikan tayangan tersebut juga tidak satu suara untuk memberhentikannya.

Apabila tayangan tersebut sudah menjadi candu, suatu yang sudah digemari sehingga melekat dan dekat pada masyarakat, maka untuk merubah kebiasaanpun akan sulit apabia tidak ada tindakan dari pihak yang mampu memberhentikannya yaitu stasiun televisi tersebut. Apabila tidak dihentikanpun, dapat juga diakali menggunakan cara penggeseran jam tayangnya.

Kesadaran untuk mencukupi kebutuhan diri bersenang-senang dibangun begitu halus , karena pada dasarnya manusia memang makhluk yang senang bermain-main. Karena itu, peran orang tua menjadi penting untuk mengontrol acara yang sedang ditonton oleh anak-anaknya. Masalah selanjutnya adalah tayangan tersebut sudah menjadi tayangan keluarga, sehingga orang tua pun juga menggandrungi hal tersebut. Lantas, seperti apa pendidikan yang dibangun dalam keluarga jika sudah seperti itu. Sejatinya keluarga adalah madrasah pertama sebuah pendidikan bagi anak.

Barangkali candu kali ini tidak berupa narkotika yang apabila seseorang mengkonsumsinya akan dikenai pasal-pasal penyalahgunaan narkotika dan sebagainya, akan tetapi candu ini berupa ketidak sanggupan diri untuk mengontrol agar dirinya melakukan hal yang lain, sehingga memberikan manfaat terhadap dirinya dan masyarakat.

Stasiun televisipun kadang tidak mau kalah dengan semakin intensnya menayangkan hal tersebut untuk menaikkan rating. Sehari dapat ditayangkan sampai dua kali, selain itu yang perlu diingat acara tersebut tidak hanya ditayangkan pada satu stasiun televisi, namun lebih dari itu.

Acara lawak akhirnya tidak berfungsi sebagaimana sebuah hiburan, karena nilai-nilai tidak etis yang mereka usung. Masyarakat akan rindu dengan tayangan-tayangan yang lebih berbobot yang ditayangkan pada jam-jam utama, ketika sebuah keluarga berkumpul di rumah. Bangsa ini sedang berkembang, sayangnya terkesan grusa-grusu karena tidak diimbangi dengan penanaman pendidikan moral dan agama yang semestinya menjadi kebiasaan dan cara hidup sebuah bangsa.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :