JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Psikologi Tokoh Firas Sebagai Tokoh Kedua serta Pengaruhnya dalam Novel Partikel Karya Dee

 Jega Arufa/121111005

Psikologi Tokoh Firas Sebagai Tokoh Kedua serta Pengaruhnya

 dalam Novel Partikel Karya Dee

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penelitian intrinsik tidak sepenuhnya mampu menyelesaikan permasalahan dalam sebuah karya sastra. Karena itu muncul psikologi sastra yang justru tidak di“produksi” oleh ahli sastra. Sastra memiliki khazanah yang begitu kompleks, sehingga setiap yang muncul selalu menarik untk dikaji. Namun, apabila sebuah karya sudah dapat dikaji menggunakan pendekatan-pendekatan dan teori yang terlahir untuk mengkaji karya sastra secara  struktural, intertekstualitas dan seterusnya, maka cukuplah menggunakan teori tersebut tanpa memaksakan menggunakan metode penelitian  psikologi sastra untuk membedah teks.

Interpretasi terhadap karya sastra kian berkembang, dan dirumuskan teori penciptaanya oleh Freud.

“Bagi Freud, sebuah karya sastra sebenarnya sama seperti sebuah mimpi. Keduanya tidak lain adalah suatu penyempurnaan bayangan terhadap wish fulfillment (hasrat bawah sadar yang terpendam). Oleh sebab itu, kaidah interpretasi mimpi dapat dikenakan pula pada interpretasi karya sastra”. (Endraswara, 2008: 16)

Sehingga lahirnya sebuah karya sastra tidak terlepas dari alam sadar dan bawah sadar seorang pengarang. Proses kreatif yang mendorongnya keluar hingga tercipta karya yang memiliki kondisi psikologis tertentu.

Sebuah karya tercipta dari rahim penulis yang sudah fenomenal dan populer di Indonesia pada tahun 2000 an ini hingga sekarang. Tentu delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu keberlanjutan sebuah kisah Supernova. Partikel, karya Dee. Novel ini terdiri dari tiga bab/keping saja yang diramu dengan konflik psikologis dalam diri tokoh yang begitu kental.

Karena penemuan-penemuan dalam cerita yang begitu kompleks maka, novel ini menjadi begitu menarik apabila dibedah menggunakan pendekatan psikologi sastra. Tokoh utama dalam novel ini adalah Zarah, dengan berbagai konflik dan cerita perjalanan yang ada, ia berusaha mencari ayahnya yang menghilang, Firas.

Perjalanan panjang Zarah mencari ayahnya menjadi awal cerita dan konflik yang terdapat dalam novel ini.

Tokoh dalam psikologi sastra menjadi unsur penting dan bagian tidak terpisahkan dalam sebuah karya sastra. Data empiris yang ada dalam pengarang, misalnya seorang tokoh akhirnya bunuh diri, membunuh, menangis dan sebagainya merupakan data yang hidup pada diri seorang pengarang, dan mereka sering mengubahnya pada data imajiner yang akhirnya dapat berubah-ubah.

Firas, ayah Zarah dalam pendekatan psikologi sastra menjadi menarik untuk dikaji karena perilakunya yang diluar kebiasaan orang pada umumnya. Ia dilahirkan di Batu Luhur, kota di pinggir Bogor. Kemudian dibesarkan tidak oleh orang tua kandung, melainkan Abah Hamid. Abah orang yang begitu disegani di kampung tersebut. Ia tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Hingga terkenal menjadi dosen IPB yang genius. Konflik bermula ketika ia menyukai Aisyah (Ibu Zarah), anak kandung Abah. Cinta bersambut, Aisyahpun juga sangat mencintai Firas, sehingga mereka memutuskan menikah dengan pertentangan yang ada. Abah menganggap mereka berdua melakukan “inses”, meskipun mereka bukan saudara kandung.

Setelah pernikahan dilangsungkan hubungan Abah dengan Firas, Ayah Zarah memburuk. Abah menganggap hal tersebut adalah aib dan tidak boleh dilakukan. Namun, cinta telah membuat mereka begitu ingin bersatu. Masyarakat Batu Luhur sangat mendukung dengan pernikahan dua orang yang sangat terkenal waktu itu, Firas karena kecerdasannya, sehingga masyarakat Batu Luhur tidak pernah kekurangan pangan, dan hasil pertanian meningkat karena temuan-temuan Firas. Sedangkan Aisyah adalah bunga desa Batu Luhur.

Pernikahan mereka membuat Abah , Umi menjauh dari Firas dan Aisyah. Hingga kelahiran Zarah pun tak membantu banyak untuk mendekatkan kembali keluarga tersebut. Perlakuan Firas, seorang dosen jenius ini justru nyeleneh, pasalnya dia memilih mendidik anaknya secara mandiri, tidak melalui lembaga pendidikan seperti pada umumnya, Zarah tidak disekolah oleh Firas. Hal tersebut makin membuat jurang pertentangan antara Firas beserta keluarga Abah.

Firas ahli mikologi, memiliki pengetahuan yang luas terhadap makhluk hidup di bumi, terutama jamur. Perilakunya semakin menjadi tidak wajar ketika ia memutuskan untuk memasuki daerah terlarang di daerah tersebut, Bukit Jambul. Warga tidak merasa aman dengan perilaku Firas yang seperti itu. Karena Bukit Jambul, Firas sering tidak pulang beberapa hari, bahkan ketika Aisyah sedang mengandung. Aisyah sudah merasa bahwa hamilnya kali ini ada hal yang tidak beres karena seringnya ia sakit. Puncak konfliknya pada bagian ini adalah ketika bayi tersebut, adik Zarah dan Hara lahir dalam kondisi mengerikan. Banyak yang bilang itu akibat perilaku Firas yang sering ke Bukit Jambul, bahkan menghilang pada waktu kelahiran bayi tersebut.

Semua menyalahkan Firas, tetapi Zarah tidak. Ketika Firas kembali, ia menjelaskan bahwa bayinya terkena Harlequin Ichtyosis. Penyakit yang sangat langka, akan tetapi keluarga Abah tidak bisa hal tersebut. Menganggap bahwa Firas sudah beristri jin sehingga anaknya dikutuk seperti itu, dan anggapan-anggapan mistis lain. Keesokannya, Firas menghilang, Zarah dan keluarga semula menganggapnya akan kembali, namun, setelah seminggu tidak ada tanda-tanda keberadaan Firas,akhirnya kepolisian pun turut mencarinya. Setelah berbulan-bulan tidak ada tanda kehadirannya, mereka menyerah.

Firas meninggalkan hasil penelitiannya, jurnal tersebut bukti pemikirannya dan hasil pengalaman kejiwaannya selama ini. Ia menulis mengenai awal lahirnya manusia, makhluk-makhluk yang ia temui ketika menembus dimensi yang lain. Begitu banyak hal yang Zarah temukan dalam jurnal ayahnya. Hasil pemikiran itulah yang Zarah pakai untuk menelusuri jejak sang ayah, Firas.

Sehingga permasalahan psikologi yang dialami Firas menarik untuk dikaji menggunakan pendekatan psikologi penokohan. Meskipun Firas bukanlah tokoh utama dalam Partikel, namun kemunculannya dalam cerita menjadi dominan. Selain itu, keberadaannya yang melatarbelakangi konflik dalam Partikel.

1.2 Rumusan Masalah

            Perilaku dan sikap Firas yang melatarbelakangi konflik dalam Partikel menjadi menarik untuk dikaji kronologi kejiwaannya. Selain itu pengaruhnya terhadap tokoh lain dan kaitannya dengan konsep masyarakat juga perlu  untuk diteliti lebih lanjut.

 

Selengkapnya hubungi saya ....

FIB-UNAIR

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :