JEGA ARUFA


Jalan yang harus ditempuh...

Kosong

Nama   : Jega Arufa

NIM    : 121111005

Tugas   : Penulisan Prosa

Kosong

     Inilah tempat, di mana mentari tak pernah ramah. Kehidupan berlangsung semestinya. Ada satu hal yang luar biasa dari beberapa kehidupan masyarakat sekitar ini. Entah, aku hanya merasa heran saja, disaat harga daging sapi perkilo 70.000 rupiah, disini manusia biasa dibeli dengan harga 50.000 rupiah rata-rata, paling-paling yang agak mahal 80.000 rupiah. Oii, musim ini manusia dijual murah layaknya barang obral, padahal harga seekor sapi minimal 7 juta.

     Ini musim obral janji dan jual beli manusia biasa dilakukan. Tempat ini banyak mengenal musim, musim kampanye saat harga-harga manusia turun, musim banjir, musim demonstrasi besar-besaran karena BBM naik dan musim-musim lainnya yang sering berulang saat yang diperlukan. Yang mereka tahu hanya hal-hal yang disiarkan lewat sekotak tabung kecil dalam ruangan. Benda canggih yang mereka sebut dengan televisi. Dunia kecil yang merekam dunia yang lebih luas dengan beragam perspektif.

     Kami biasa mengenal nama-nama yang ditayangkan melalui televisi. Pola penayangannya sering sama, yang diangkat begituan melulu. Kau tahu, sebuah kejadian bisa ditayangkan lebih dari 10 kali sehari pada sebuah stasiun TV, itu baru satu, disini lebih dari sepuluh stasiun TV memiliki pola sama yang membosankan seperti itu. Kuputuskan tak menontonnya lagi sejak aku percaya mereka sering menjual berita bohong.

     Siang ini, matahari yang tak ramah itu terus saja bersinar, keringat yang menetes dari tubuhku terasa sebesar biji-biji jagung yang meluncur tanpa aba-aba. Seperti biasa, orang kurang kerjaan sepertiku akan menghabiskan berjam-jam di kafe tak bernama ini untuk akses internet secara gratis dan sepuasnya, cukup membeli minuman dingin yang mereka beri nama cappuccino seharga 9.000 atau menu-menu lain yang ditawarkan, berjam-jam berikutnya aku akan menghilang dari dunia nyata, hidup layaknya tokoh dongeng di dunia maya.

     Tak perlu kuceritakan semua tentang hidup ini, hanya saja kejadian ini masih kuingat, tentang abu dan sapaan yang biasanya. Tentang awan yang menghilang setelah turunnya hujan1. Tentang pertemuan yang tak terjadi dikemudian hari. Bermula lima tahun lalu saat pertemuan dua subjek itu terjadi. Antara aku sebagai subjek pertama dan dia sebagai subjek utama. Itulah bedanya, antara aku dan dia.

      Kisah ini terjadi di tempat matahari tak pernah ramah. Aku melihatnya di sebuah jalan tak bernama. Hanya simbol yang membedakan jalan dan gang di sini dengan yang lainnya. Aku pikir memang tak semua hal tercipta dengan dan membutuhkan sebuah nama. Nama adalah penanda bagi sebuah simbol. Asal kita tahu maksudnya. Kita tak selalu butuh nama, itu saja bedanya.

     Aku masih berjalan terhuyung dengan beberapa atribut usai demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa kampus di sebuah kota besar negeri ini. Satu hal yang membuatku bingung kala itu, kami teriak, orasi sepenuh hati, kuliah kami tinggalkan untuk menyuarakan suatu hal yang mereka sebut aspirasi rakyat. Puluhan kali dilakukan untuk mengolah isu yang sama, tapi orang-orang istana itu tak bergeming juga. Oii, sia-sia benar nasibku kala itu. Nasib semester tua yang tak terlalu sibuk dengan agenda akademik, justru kelimpungan dengan agenda-agenda ekstra.

     Ricuh kelompok “sekte mahasiswa membuat nasibku kala itu yang baru mengenal lokasi demonstrasi, terpisah jauh dari rombongan dan memutuskan untuk pulang dengan jalan memutar belakang gedung ini. Layaknya kasus oposisi biner, hitam-putih dan sekarang antara gedung tinggi menjulang dan perumahan kumuh di belakang area ini. Meliuk di gang-gang kecil sepanjang daerah ini membuat seseorang akan tersesat kalau dia tidak bertanya pada orang sekitar. Rumit jalinannya, pikirku. Ini seperti perjalanan panjang yang hampir tak kutemui ujungnya. Saking lelahnya, perjalanan dari gang satu menuju gang selanjutnya, aku merasa berjalan sambil tidur. Saat setengah sadar itulah, aku melihatnya sebagai sebuah bayangan, lama kelamaan makin jelas dan kami bertatapan. Baru aku tahu bahwa dia manusia sebangsa kami, hanya saja ada hawa yang aneh dengannya. Laki-laki yang terdiam melihat langit. Seakan ada bahasa yang tak sampai pada telingaku. Aku merasa kami tak perlu berbicara dan kulangkahkan kakiku segera meninggalkan tempat asing ini. Beberapa detik kemudian langkahku terhenti, karena suara yang tak terucap tapi kurasa. Dia memintaku untuk menunggu sebentar, keadaan di luar sedang kacau.

     Aneh pikirku, aku merasa tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tapi aku bisa mendengarnya. Kugaruk rambutku yang tidak gatal. Mungkin aku hanya berfirasat. Hendak kulangkahkan kaki dan suara itu terulang kembali. Aku berfikir apakah dia adalah alien yang nyasar ke tempat semacam ini. Tak ada ucapan seperti manusia biasa ketika berujar. Apakah kita seperti ikan yang sedang berbicara dalam air? Tidak perlu membuka mulut, karena mungkin kalau tiap berbicara membuka mulut, air akan sering masuk dalam perutnya dan ikan-ikan menjadi “kenyang”. Hanya dengan frekuensi tertentu, dia mengirim pesan padaku.

     Dia menegaskan lagi, memintaku yang tak sabaran keluar dari area panas ini untuk menunggunya. Saat aku berpikir tentang apakah dia adalah makhluk yang disebut alien, dia menjawab “ya, akulah alien pertama di sini”. Baiklah, kugaruk rambutku yang tidak gatal.

     “Tolong bawa aku keluar dari tempat ini”. Jawabnya tanpa menunjukkan ekspresi dan suara. Kali ini tanpa bertanya lagi, aku mengangguk dan memintanya agar mengikutiku. Kutanyakan padanya, berasal dari tempat seperti apa dia dan kenapa .

    “Aku dibuang dari tempat asalku, di sana ada angin yang selalu berhembus, tidak begitu kencang, mengalun bersahaja. Matahari bersinar ramah. Bangunan-bangunan hampir semuanya bermodel sama, tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah kecuali gedung pemerintahan atau tempat publik lain. Ingin apapun tersedia di sana, tinggal pesan seperti aku bicara padamu seperti ini.” Jawabnya sambil memandang langit yang menyilaukan itu.

Kuputuskan tak bertanya lagi.

“Kenapa memutuskan tak bertanya lagi?” Tanyanya.

     Aku memintanya tak bertanya kenapa aku tak mengajukan pertanyaan. Banyak hal yang ingin aku tahu, tapi banyak bertanya membuatku menjadi makhluk “kepo” seperti tayangan yang disiarkan di televisi-televisi wilayah ini. Ada privasi bagi seseorang, seterbuka apapun era itu. Aku kira kehidupan tempat asalnya adalah tempat ideal yang orang manapun dapat hidup dengan tenang di sana.

     Perjalanan kami telah sampai pada ujung gang rumit ini. Sebentar saja, matahari di kota yang tak ramah ini sedikit lebih sopan. Tidak ada yang berubah dengan lainnya.

“Apa yang dilakukan oleh seorang yang terbuang?” Tanyanya.

     Kujelaskan mengenai yang biasanya aku lihat di film-film bohong itu. Tentang penebusan yang harus dia lakukan. Membayar semua kesalahannya, yang menjadikannya dibuang, agar dia bisa kembali lagi ke dunianya. Jawaban itu muncul saja diotakku. Beberapa menit setelahnya, tanpa aku tahu apa yang akan dia perbuat aku meninggalkannya sendiri di tempat itu.

     Keesokan hari setelahnya baru aku tahu dari banyaknya pemberitaan di media manapun yang aku temui, bahwa banyak orang meninggal secara bersamaan di wilayah ini tanpa sebab. Tak ada pola yang terbaca, entah orang itu gendut atau kurus, kaya ataupun miskin, kebanyakan meninggal tanpa ada tanda dan aba-aba. Kota ini menjadi begitu pilu, tangisan menyayat tak luput dari mata. Hampir tiap gang tak bernama memasang lambang duka. Kereta mayat, arak-arakan pemakaman bagai karnaval panjang tahun ini. Namun semua berbalut duka.

     Lima tahun setelah kejadian itu, di kafe tak bernama ini aku tercenung menjumpai dia duduk tanpa kalimat sapaan di depanku. Kami tak perlu bicara, hanya perlu berinteraksi lewat sebuah pikiran yang tak mungkin ada kebohongan lagi.

“Giliranmu sekarang!” Ucapnya.

 

1Dari puisi “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :